Keputusan Bank Indonesia Mempertahankan BI-Rate di Level 5,75%

Smallest Font
Largest Font

Penulis : Redaksi Investor Daily 20 Aug 2026 | 14:06 WIB

Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti berjalan untuk mengikuti rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (27/7/2026). (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate di level 5,75% merupakan pilihan yang masuk akal di tengah ruang kebijakan yang makin sempit. Menurunkan suku bunga terlalu dini berisiko kembali menekan rupiah, sedangkan menaikkannya berpotensi menambah beban dunia usaha dan menghambat momentum pertumbuhan.

Rapat Dewan Gubernur BI pada 18–19 Agustus 2026 memang berlangsung ketika kondisi domestik relatif membaik. Rupiah pada 18 Agustus berada di Rp17.855 per dolar AS dan inflasi Juli melandai menjadi 2,88% secara tahunan, masih dalam sasaran 2,5±1%. Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 pun mencapai 5,29%.

Namun, stabilitas tersebut belum cukup kokoh untuk membuat BI mengendurkan kewaspadaan. Ketidakpastian global masih tinggi akibat perang di Timur Tengah, kenaikan harga minyak, dan prospek suku bunga Amerika Serikat (AS) yang tetap tinggi. BI bahkan melihat dunia sedang memasuki era higher for longer.

Karena itu, mempertahankan BI-Rate 5,75% adalah pilihan yang proporsional. Mayoritas ekonom juga telah memperkirakan keputusan tersebut. LPEM FEB UI, misalnya, merekomendasikan BI menahan bunga karena inflasi masih terkendali dan rupiah mulai membaik. Namun, risiko tekanan terhadap rupiah dan inflasi belum sepenuhnya mereda sehingga pelonggaran moneter saat ini dinilai terlalu dini.

Kewaspadaan tetap diperlukan karena penurunan inflasi belum sepenuhnya bersifat struktural. LPEM FEB UI mencatat, pelambatan inflasi terutama berasal dari harga bergejolak dan faktor musiman. Risiko kenaikan harga pangan akibat El Niño dan musim kemarau juga masih membayangi.

Pada titik inilah menarik mencermati keseimbangan kebijakan BI. Bank sentral tidak menaikkan bunga untuk memperkuat rupiah, tetapi juga belum menurunkannya untuk mendorong pertumbuhan. BI memilih mempertahankan jangkar moneter sambil menggunakan instrumen lain untuk menggerakkan ekonomi.

Pilihan itu terlihat dari penguatan insentif likuiditas, kebijakan makroprudensial longgar, dan insentif lindung nilai untuk menarik aliran modal asing. Hingga awal Agustus, insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial mencapai Rp446,5 triliun. Kredit perbankan pada Juli pun tumbuh 13,58% secara tahunan.

Dengan kata lain, BI sedang mencoba memisahkan instrumennya: suku bunga menjadi jangkar stabilitas, sedangkan likuiditas dan makroprudensial menjadi mesin pendorong pertumbuhan. Pendekatan ini lebih tepat ketimbang memaksakan BI-Rate mengemban terlalu banyak tujuan sekaligus.

Bagi pelaku usaha, pesan kebijakan tersebut cukup jelas. Jangan terlalu cepat berharap era bunga murah segera kembali. Dunia usaha perlu menyiapkan perencanaan investasi dan pembiayaan dengan asumsi biaya dana relatif tinggi masih bertahan, sekaligus lebih disiplin mengelola risiko kurs dan utang valuta asing.

Namun, stabilitas seharusnya tidak berakhir pada pasar keuangan. Tantangan berikutnya justru memastikan likuiditas benar-benar mengalir ke kegiatan produktif. Seperti diingatkan Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian, stabilisasi hanyalah fondasi; keberhasilannya harus diterjemahkan menjadi investasi, ekspansi usaha, dan penciptaan lapangan kerja.

Di sinilah ujian keseimbangan kebijakan BI sesungguhnya. Terlalu lama mempertahankan bunga tinggi dapat menahan ekspansi sektor riil. Sebaliknya, terburu-buru melonggarkan kebijakan dapat mengorbankan rupiah dan menghidupkan kembali imported inflation.

Untuk saat ini, pilihan BI menahan bunga layak didukung. Pasar pun sebelumnya hampir bulat memperkirakan BI-Rate tetap 5,75%, sementara tekanan rupiah telah mereda dan inflasi berada dalam sasaran.

Tetapi keberhasilan kebijakan ini tidak cukup diukur dari rupiah yang stabil atau inflasi yang terkendali. Ukurannya harus bergerak lebih jauh: apakah stabilitas mampu menghasilkan kredit yang produktif, investasi yang meningkat, usaha yang berekspansi, dan lapangan kerja yang bertambah.

Intinya, stabilitas bukanlah tujuan akhir. Stabilitas harus menjadi jalan menuju pertumbuhan yang lebih kuat dan berkualitas.

Editor: Nasori

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

BI Andalkan Instrumen Moneter untuk Jaga Rupiah dari Tekanan Global

BI Siapkan Mitigasi El Nino, Beras hingga Cabai Jadi Perhatian

Ekonom: BI Mulai Alihkan Fokus dari Stabilitas ke Pertumbuhan

Destry Buka-bukaan Strategi Pimpin BI Jaga Stabilitas Sambil Dorong Pertumbuhan

Uang Primer (M0) Tumbuh 18,3% pada Juli 2026

Finance 3 menit yang lalu CLGS FH UI: Batas Harga Diperlukan untuk Cegah Kegagalan Pasar CLGS FH UI menilai penetapan batas harga diperlukan untuk mencegah kegagalan pasar dan melindungi konsumen dari praktik yang merugikan

International 5 menit yang lalu Trump Deklarasi 'Perang Ekonomi' Terhadap Iran Trump umumkan 'perang ekonomi' ke Iran. AS ancam sanksi berat bagi negara pendukung, respons ketegangan Selat Hormuz.

Editorial 40 menit yang lalu Stabilitas untuk Pertumbuhan “Stabilitas bukanlah tujuan akhir. Stabilitas harus menjadi jalan menuju pertumbuhan yang lebih kuat dann berkualitas.

Market 45 menit yang lalu Target Saham Darma Henwa (DEWA) Dipangkas Gara-gara Ini BRI Danareksa memangkas target harga saham DEWA atau Darma Henwa menjadi Rp 530, setelah proyeksi belanja modal 2026 membengkak.

Market 46 menit yang lalu BEI Mau Ubah Batas Harga Minimum Saham ke Rp 1, Ubah Klasifikasi ARA-ARB BEI berencana mengubah batasan harga minimum saham menjadi Rp 1 per saham. Klasifikasi ARA dan ARB juga diubah.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed