Katarak Picu 81 Persen Kasus Kebutaan Warga Lansia di Indonesia
Katarak masih mendominasi sebagai pemicu utama hilangnya penglihatan di Indonesia, terutama bagi masyarakat yang telah memasuki usia 50 tahun ke atas. Gangguan ini terjadi saat lensa alami mata berubah keruh, memicu pandangan kabur, silau, serta menghambat rutinitas keseharian. “Katarak merupakan kondisi ketika lensa alami mata mengalami kekeruhan, sehingga cahaya sulit masuk dengan optimal dan penglihatan menjadi buram,” jelas Kepala Klinik Utama Mata JEC ANWARI @ Purwokerto Dr Kukuh Prasetyo, SpM, ChM, (Hon.)FIOF dalam keterangan tertulis yang dikutip dari Investor Daily. Pernyataan tersebut disampaikan dalam agenda operasi gratis Bakti Katarak oleh JEC Eye Hospitals and Clinics melalui Klinik Utama Mata JEC ANWARI @ Purwokerto. Kegiatan sosial ini berlangsung dalam rangka Bulan Bakti Persatuan Dokter Mata Indonesia (PERDAMI) 2026.
Dr Kukuh memaparkan, gejala katarak dapat berkembang secara perlahan, mulai dari pandangan berkabut, warna tampak pudar, lebih sensitif terhadap cahaya atau silau, kesulitan melihat pada malam hari, hingga menurunnya kemampuan membaca dan beraktivitas sehari-hari.
Kondisi degeneratif ini umumnya berjalan seiring proses penuaan tubuh. Kendati demikian, terdapat aspek pemicu lain seperti cedera mata, diabetes, konsumsi obat tertentu jangka panjang, radiasi ultraviolet, hingga faktor bawaan sejak lahir. Berdasarkan data survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) 2014-2016 oleh PERDAMI dan Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI di 15 provinsi, angka kebutaan warga usia 50 tahun ke atas mencapai 3 persen. Dari total angka tersebut, katarak menjadi penyebab tertinggi dengan andil 81,2 persen kasus.
Dampak katarak tidak sekadar menyerang fisik, melainkan turut mengikis kualitas hidup, aspek kemandirian, serta produktivitas harian penderitanya. Walau begitu, risiko kebutaan ini sejatinya bisa diantisipasi lewat pemeriksaan deteksi dini serta tindakan operasi yang akurat. “Dalam operasi katarak, lensa mata yang keruh akan diangkat dan digantikan dengan lensa buatan atau intraocular lens (IOL), sehingga pasien dapat kembali memperoleh kualitas penglihatan yang lebih baik. Seiring perkembangan teknologi, penanganan katarak kini juga semakin presisi dan personal, dengan berbagai pilihan metode tindakan serta lensa tanam yang dapat disesuaikan dengan kondisi mata dan kebutuhan aktivitas pasien,” ujar dr Kukuh.
Klinik Utama Mata JEC ANWARI @ Purwokerto menjalankan aksi Bakti Sosial Operasi Katarak ini pada 7-9 Juli 2026. Skema pelayanan dirancang secara komprehensif mulai dari fase pendataan, skrining medis, pengecekan penunjang, tindakan operasi, hingga kontrol H+7 pasca-operasi. Langkah penanganan terintegrasi ini diaplikasikan demi menjamin keamanan penuh bagi pasien sesuai standar mutu pelayanan kesehatan mata. Pemulihan daya penglihatan diharapkan mampu mendorong masyarakat kembali produktif, mandiri, serta aktif berpartisipasi di lingkungan sosial. “Karena itu, kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya bersama untuk menekan angka kebutaan yang dapat dicegah sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” kata dr Kukuh.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow