Istana Buka Suara Soal Kekeliruan Data Upah Pengupas Bawang Pidato Presiden
Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi mengimbau masyarakat agar tidak terpaku pada kekeliruan data upah pengupas bawang dalam pidato Presiden Prabowo Subianto pada Jumat (14/8/2026), melainkan berfokus pada gagasan besar yang disampaikan.
Sorotan publik mencuat setelah Presiden Prabowo menyebutkan dalam pidato kenegaraan di Gedung DPR, Senayan, bahwa terdapat pengupas bawang yang dibayar Rp700.000 per kilogram. Pernyataan tersebut memicu tanggapan dari warga serta pihak keluarga yang bersangkutan.
Hasan Nasbi menegaskan di Istana Jakarta pada Senin (17/8/2026) agar publik memikirkan pesan utama pidato tersebut alih-alih meramaikan potongan kalimat tertentu.
"Kita pikirkan substansi dari pidato besar Presiden ya. Yang satu kalimat, dua kalimat digoreng itu saya rasa kita harus apa? Belajar untuk tidak terfokus. Itu algoritma juga itu," ujar Hasan Nasbi, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi.
Penjelasan mengenai gagasan utama pidato kenegaraan juga kembali ditekankan oleh pihak Istana.
"Satu kalimat, dua kalimat, tapi pikirkan substansi besar dan gagasan besar dari pidato presiden. Sebaiknya seperti itu," kata Hasan Nasbi, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi.
Pernyataan Presiden tersebut berawal dari sosok Susanah, warga Cileungsi, Kabupaten Bogor. Penelusuran media dan keterangan keluarga mengonfirmasi bahwa Susanah bukan pekerja pengupas bawang, melainkan buruh jahit kain perca atau majun serta pencuci wadah makanan.
Di tempat tinggalnya, Susanah menjahit potongan baju bekas menjadi lap majun pada pagi hari. Pekerjaan borongan menggunakan mesin jahit milik pengusaha bernama Ali tersebut memberi upah Rp700 untuk setiap kilogram kain yang selesai dijahit, sementara penyusun kain memperoleh Rp600 per ikat.
Adik Susanah, Yuli, mengonfirmasi detail skema pengupahan dan aktivitas harian kakaknya di Situsari, Cileungsi pada Minggu (16/8/2026).
"Dia cuma disuruh menjahit. Kuli. Dia mah kuli," kata Yuli, Adik Susanah.
Ia merinci lebih lanjut bahan baku yang diolah oleh kakaknya dalam pekerjaan jahit borongan tersebut.
"Baju bekas dipotong-potong. Nanti ada sarung tangan juga," ujar Yuli, Adik Susanah.
Yuli meluruskan jenis pekerjaan kakaknya yang viral di media sosial setelah pidato Presiden.
"Bukan bawang. Enggak ada kupas bawang di sini. Bikin majun," sebut Yuli, Adik Susanah.
Mengenai kepemilikan alat dan usaha, pihak keluarga menegaskan Susanah hanya pekerja buruh.
"Punya Pak Ali. Dia cuma disuruh menjahit," tutur Yuli, Adik Susanah.
Faktor ketersediaan bahan yang telah disusun pekerja lain menentukan pendapatan harian Susanah.
"Kalau ada yang nyusunnya banyak, dia dapat," ucap Yuli, Adik Susanah.
Siang harinya, Susanah bekerja mencuci ompreng di dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Klapanunggal selama lima hari sepekan dengan upah Rp110.000 per hari, naik dari sebelumnya Rp100.000.
"Dari pagi sampai siang. Nanti siang dia kerja cuci ompreng," ujar Yuli, Adik Susanah.
Perubahan besaran upah harian di dapur MBG tersebut dikonfirmasi kembali oleh Yuli.
"Kemarin seratus, terus naik seratus sepuluh. Itu per hari. Seminggu ada lima hari," kata Yuli, Adik Susanah.
Pemberitaan mengenai sosok Susanah yang viral sampai ke telinga keluarga melalui pesan singkat.
"Ada ada adik saya di hape. 'Nih, si Susanah kok viral, ya,' gitu," ungkap Yuli, Adik Susanah.
Keterangan serupa disampaikan kakak ipar Susanah, Wina, mengenai pembagian waktu kerja harian Susanah dari pagi hingga malam hari.
“Dari pagi dia kalau ada susunan dia menjahit. Nah, nanti jam 1 siang dia kerja di MBG sampai selesai. Kadang-kadang nyampe sore kerjanya, kadang-kadang nyampe malam jam 9, tergantung gimana omprengannya di sana. Selebihnya ibu rumah tangga,” kata Wina, Kakak Ipar Susanah.
Wina menyampaikan keheranan pihak keluarga dan konfirmasi yang telah disampaikan Susanah.
“Bingung saya juga. Dia bahkan WhatsApp saya, bingung dia juga, kaget. Tapi dia katanya langsung klarifikasi ke pihak sana bahwa itu pernyataan salah, dia bukan pengupas bawang,” tutur Wina, Kakak Ipar Susanah.
Kabar nominal upah pengupas bawang Rp700.000 per kilogram juga sampai ke pedagang pasar tradisional. Nurliah, pedagang sayur di Pasar Pa'baeng-baeng, Makassar, mengaku pernah menjadi buruh kupas bawang dengan upah Rp100.000 per 25 kilogram atau Rp4.000 per kilogram.
"Di mana? Kalau ada, saya juga mau," kata Nurliah, Pedagang Pasar Pa'baeng-baeng.
Nurliah membandingkan nominal yang disebutkan dengan pengalaman upah yang pernah diterimanya.
"Waktu saya dulu makkupas, Rp100.000 untuk 25 kilogram. Jadi kalau satu kilogram berarti Rp2.500," ujar Nurliah, Pedagang Pasar Pa'baeng-baeng.
Sementara itu, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional mencatat harga eceran bawang merah di DKI Jakarta pada 17 Agustus 2026 berada di tingkat Rp39.300 per kilogram, turun dibanding hari sebelumnya yang tercatat Rp39.450 per kilogram.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow