Iran Tegaskan Kuasai Selat Hormuz dan Sepakati Rute Pelayaran dengan Oman
Iran menegaskan bahwa mereka memegang kendali penuh atas Selat Hormuz yang strategis dan telah menyepakati rute pelayaran dengan Oman sebagai bagian dari pembicaraan untuk membuka kembali jalur tersebut.
Penegasan ini muncul setelah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa AS memegang kendali jalur perairan vital tersebut dan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi pengaliran jutaan barel minyak setiap hari.
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa kendali atas Selat Hormuz bersifat "sepenuhnya dan mutlak" dan menolak klaim AS yang menyebut Selat Hormuz terbuka sebagai kebohongan yang digunakan untuk mengendalikan harga minyak dan menutupi kekalahan AS.
IRGC menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap tertutup bagi kapal yang tidak melalui koordinasi dengan otoritas Iran, dan kondisi ini akan terus berlaku hingga agresi AS terhadap Iran berakhir serta kewajiban-kewajiban terkait dipenuhi.
Iran menutup Selat Hormuz setelah serangan besar dari AS dan Israel pada Februari lalu, kemudian membuka kembali selama 60 hari sesuai nota kesepahaman yang diteken pada Juni. Namun, aksi saling serang dan tuduhan pelanggaran membuat Selat Hormuz kembali ditutup oleh Teheran.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, menyatakan bahwa tuntutan Iran mencakup pencabutan blokade ekonomi ilegal AS, penghentian agresi di berbagai front termasuk Lebanon, dan klarifikasi soal blokade terhadap Yaman.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan bahwa Iran dan Oman telah menyepakati rute pelayaran Selat Hormuz dan Iran akan membuka kembali selat tersebut jika AS memenuhi komitmennya berdasarkan Memorandum Islamabad yang ditandatangani pada Juni lalu.
Pezeshkian mengatakan bahwa rencana rute pelayaran itu telah disampaikan kepada Pemimpin Tertinggi Iran dan saat ini sedang ditindaklanjuti. Ia menyebutkan komitmen AS meliputi pencabutan sanksi dan blokade, pelepasan aset Iran, investasi, serta pengakhiran perang di Lebanon.
Menurut Pezeshkian, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mencapai konsensus luar biasa dengan 12 dari 13 anggota mendukung kesepakatan tersebut.
Presiden Iran juga menyatakan bahwa sanksi dan blokade awalnya telah dicabut, negosiasi pelepasan dana beku telah dimulai, dan rencana investasi senilai 300 miliar dolar AS sedang disiapkan. Namun, proyek investasi terhambat jika perang berlanjut.
Ia menambahkan bahwa Iran telah membicarakan rencana investasi dengan Qatar dan Uni Emirat Arab, serta berupaya mengembalikan status Selat Hormuz seperti semula, tetapi kegagalan terjadi karena pihak lain tidak mematuhi nota kesepahaman.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow