Inflasi AS Melandai Jadi 3,4 Persen pada Juli 2026
Laju inflasi tahunan Amerika Serikat mencatatkan penurunan selama dua bulan berturut-turut hingga menyentuh level 3,4 persen pada Juli 2026. Data resmi Bureau of Labor Statistics menunjukkan bahwa penurunan harga bahan bakar minyak menjadi faktor utama yang menahan laju kenaikan harga konsumen. Seperti dilansir dari Investor Daily, Indeks Harga Konsumen merosot dari posisi 3,5 persen pada Juni 2026 menjadi 3,4 persen secara tahunan pada Juli 2026.
Angka tersebut sejalan dengan estimasi konsensus pasar. Secara bulanan, CPI naik tipis 0,1 persen, berbalik dari penurunan 0,4 persen pada bulan sebelumnya. Sektor energi mencatatkan penurunan harga sebesar 1,5 persen, dengan komoditas bahan bakar minyak merosot hingga 2,9 persen secara bulanan.
Penurunan harga energi ini dipengaruhi oleh kemajuan pembicaraan damai terkait konflik di Timur Tengah yang sebelumnya sempat mengganggu jalur pelayaran Selat Hormuz.
Di sektor lain, indeks perumahan yang menyumbang sepertiga porsi CPI tercatat hanya tumbuh tipis 0,1 persen akibat penurunan tarif akomodasi penginapan. Sementara itu, harga bahan makanan di supermarket melandai 0,1 persen secara bulanan, membawa laju tahunannya ke level 2,7 persen.
Inflasi inti yang mengecualikan komponen pangan dan energi naik 0,2 persen secara bulanan, sehingga laju tahunannya berada di level 2,5 persen. Angka ini menyamai level terendah yang pernah tercapai pada awal tahun ini. Meredanya tekanan harga memberikan ruang bernapas bagi bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, di bawah pimpinan Ketua Dewan Gubernur Kevin Warsh. Kondisi ini mengurangi urgensi pengetatan suku bunga acuan secara agresif meskipun inflasi masih di atas target 2 persen.
Bagi pasar keuangan Indonesia, meredanya risiko kebijakan ketat dari The Fed memberikan sinyal positif bagi Indeks Harga Saham Gambungan. Kepastian ekspektasi suku bunga global berpotensi menjaga kelanjutan aliran modal asing masuk ke pasar negara berkembang. Sebelumnya, perekonomian global sepanjang semester pertama 2026 sempat dibayangi ancaman stagflasi akibat lonjakan harga energi pasca-eskalasi militer pada Februari 2026. Gejolak tersebut sempat mendorong inflasi AS ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Kendati menunjukkan tren pendinginan, pemulihan ekonomi konsumen di AS masih menghadapi tantangan. Pertumbuhan upah pekerja yang berada di kisaran 3,2 persen dinilai belum sepenuhnya mampu mengejar akumulasi kenaikan harga barang dan jasa.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow