Industri Multifinance Catat Laba Rp 12,75 Triliun pada Semester I-2026

Smallest Font
Largest Font

Industri multifinance mencatat laba bersih sebesar Rp 12,75 triliun pada semester I-2026, mengalami pertumbuhan sebesar 15,72% secara tahunan, meskipun bisnis masih menghadapi tantangan ekonomi yang membatasi pertumbuhan piutang pembiayaan, menurut data yang dilansir dari Investor Daily.

Piutang pembiayaan multifinance tumbuh 1,88% yoy pada Juni 2026 menjadi Rp 511,26 triliun, didukung oleh kenaikan pembiayaan modal kerja sebesar 6,36% yoy. Pertumbuhan ini membaik dibandingkan Desember 2025 yang hanya tumbuh 0,61% yoy karena lesunya sektor otomotif yang selama ini menjadi penopang utama bisnis multifinance.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, Agusman, menyatakan bahwa kenaikan laba ini terutama didorong oleh efisiensi operasional serta pengelolaan risiko dan kinerja pembiayaan yang tetap terjaga.

"Per Juni 2026, industri pembiayaan membukukan laba sebesar Rp 12,75 triliun atau tumbuh 15,72% yoy. Pertumbuhan tersebut didukung antara lain efisiensi operasional serta kinerja pembiayaan dan pengelolaan risiko yang tetap terjaga," ujar Agusman dalam pernyataan tertulis.

Meski demikian, kondisi bisnis masih belum sepenuhnya membaik. Rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) meningkat menjadi 3,01% pada Juni 2026, naik dari 2,55% tahun sebelumnya, mencerminkan sikap hati-hati pelaku usaha dan permintaan yang lesu.

OJK sebelumnya menargetkan pertumbuhan piutang pembiayaan multifinance sebesar 6-8% pada akhir 2026, namun Agusman mengakui target tersebut kini berpotensi bias ke bawah.

"Piutang pembiayaan pada akhir 2026 diperkirakan tetap tumbuh positif, namun dengan bias ke bawah dari target proyeksi," kata Agusman.

Selain itu, OJK mengingatkan adanya tekanan terhadap profitabilitas industri akibat kenaikan suku bunga acuan BI sebesar 100 basis poin menjadi 5,75%, yang berdampak pada pembiayaan dengan skema floating rate.

Agusman menekankan pentingnya diversifikasi produk dan penguatan tata kelola untuk menjaga kinerja perusahaan pembiayaan.

"Kenaikan suku bunga berpotensi menekan profitabilitas industri, khususnya pada pembiayaan dengan skema floating rate. Untuk menjaga kinerja hingga akhir tahun, perusahaan perlu memperkuat manajemen risiko, tata kelola, serta penerapan prinsip kehati-hatian," ujarnya.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed