IHSG Turun 0,35 Persen di Tengah Risiko Profit Taking dan Ketidakpastian Global
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sebesar 0,35% ke level 6.504,67 pada Senin, 24 Agustus 2026, setelah sebelumnya sempat menguat di pembukaan perdagangan. Penurunan ini terjadi karena meningkatnya risiko aksi ambil untung (profit taking) dan ketidakpastian kondisi global.
Secara teknikal, IHSG masih membentuk level tertinggi baru dan momentum bullish belum hilang sepenuhnya, namun target pola wave (v) atau C sudah tercapai sehingga ruang kenaikan menjadi terbatas, menurut Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta, yang dilansir dari Investor Daily.
"Berdasarkan indikator, MA20 dan MA60 telah menunjukkan positive crossover, sementara Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif. Meski demikian, volume mulai mengalami penurunan," ujar Nafan.
Penurunan volume perdagangan menjadi sinyal penting yang menunjukkan penguatan IHSG belum sepenuhnya didukung oleh partisipasi pasar. Nafan mengingatkan investor untuk waspada terhadap potensi tekanan jual yang dapat membuat IHSG gagal mempertahankan level support sekitar 6.454 dan 6.406, dengan resistance di 6.554 hingga 6.616.
Kondisi ini membuka peluang terjadinya profit taking, terutama setelah penguatan IHSG pada perdagangan sebelumnya. Risiko koreksi juga semakin diperhatikan mengingat minggu ini hanya memiliki empat hari perdagangan.
Dari sisi global, Nafan menyebut ketegangan di Timur Tengah meningkat akibat rencana sanksi ekonomi AS terhadap Iran, potensi penutupan jalur perdagangan Selat Hormuz oleh Iran, dan keterlibatan Turki pasca serangan Israel di Suriah. Konflik Rusia-Ukraina yang belum mereda juga menambah ketidakpastian bagi investor global.
"Kondisi tersebut dapat memicu investor meningkatkan kewaspadaan dan membatasi minat terhadap aset berisiko, termasuk saham," jelas Nafan.
Namun, beberapa faktor domestik memberikan sentimen positif, seperti penguatan rupiah ke Rp 17.694 per dolar AS dan pertumbuhan uang beredar luas (M2) sebesar 8,3% secara tahunan yang membawa likuiditas ekonomi pada Juli 2026 mencapai Rp 10.371,1 triliun. Penyaluran kredit juga tumbuh 13% YoY, lebih tinggi dari Juni yang sebesar 12,1% YoY.
Penguatan harga emas dunia ke level US$ 4.661,60 per ons troi juga berpotensi mendukung saham-saham pertambangan dengan eksposur emas.
"Investor disarankan tetap selektif mengakumulasi saham dengan fundamental solid, valuasi menarik, serta menunjukkan indikasi pembalikan tren, dengan manajemen risiko yang disiplin," tutup Nafan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow