IHSG dan Rupiah Kompak Menguat di Tengah Sentimen Global

Smallest Font
Largest Font

Pasar keuangan Indonesia mencatatkan kinerja positif setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah kompak ditutup menguat signifikan pada perdagangan Kamis (16/6/2026).

IHSG melonjak sebesar 1,1 persen atau bertambah 66,24 poin ke posisi 6.108,21, sementara mata uang rupiah terapresiasi 0,44 persen ke level Rp17.980 per dolar AS, yang menandai keberhasilan keluar dari level psikologis Rp18.000.

Apresiasi pasar domestik ini terjadi di tengah melandainya data inflasi produsen (PPI) Amerika Serikat serta peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat konflik bersenjata antara AS dan Iran.

“Kiwoom Research menyarankan investor tetap mengikuti tren, dengan menerapkan trailing stop untuk menjaga profit yang telah terbentuk. Penambahan posisi (averaging up) dapat dilakukan secara bertahap apabila IHSG mampu mempertahankan momentum di atas area 5,987 dan melanjutkan penguatan menuju resistance 6.121-6.171,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata.

Liza juga menjelaskan bahwa fokus pasar kini mulai beralih ke rilis kinerja keuangan korporasi kuartal kedua untuk menentukan arah pergerakan saham ke depan.

“Investor kini mengalihkan fokus pada musim laporan keuangan kuartal II, di mana kinerja emiten teknologi dan AI diperkirakan menjadi penentu arah pasar selanjutnya,” ujar Liza.

Di sisi lain, kebijakan moneter global juga dibayangi oleh masifnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang berpotensi memicu tekanan harga baru pada sektor perangkat keras.

“Eskalasi tersebut kembali meningkatkan premi risiko geopolitik dan mendorong kenaikan harga minyak,” ujar Liza terkait dampak memanasnya hubungan AS dan Iran di Timur Tengah.

Perubahan struktur kepemilikan aset domestik turut menjadi perhatian, terutama dengan meningkatnya porsi kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) oleh Bank Indonesia guna menjaga stabilitas pasar keuangan.

“Meski mampu meredam volatilitas, kondisi itu juga mencerminkan meningkatnya ketergantungan pembiayaan pemerintah terhadap bank sentral, tercermin dari yield SBN tenor 10 tahun yang masih tinggi di 7,28 persen,” ujar Liza.

Sementara itu, pergerakan positif di pasar negara berkembang didorong oleh ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mengambil sikap lebih longgar seiring dengan data makroekonomi yang melandai.

“Data tersebut meningkatkan peluang pelonggaran kebijakan The Fed sehingga berpotensi mendukung aset berisiko, memperkuat rupiah, dan mendorong aliran dana ke pasar negara berkembang,” jelas analis BRI Danareksa.

Meski indikator teknikal menunjukkan posisi jenuh beli, kekuatan momentum diperkirakan masih menjaga pergerakan indeks saham domestik pada rentang konsolidasi yang sehat.

“Bertahannya IHSG di atas level 6.000 menjadi sinyal positif untuk melanjutkan momentum penguatan,” imbuh analis BRI Danareksa.

Kondisi jenuh beli ini juga ditekankan oleh lembaga riset lain yang memproyeksikan rentang pergerakan indeks akan berada dalam fase konsolidasi jangka pendek.

“Sehingga diperkirakan IHSG masih akan berkonsolidasi di kisaran 6.000-6.125,” jelas analis Phintraco.

Sentimen positif juga datang dari pasar komoditas global, walau tekanan dari aksi jual bersih investor asing dan fluktuasi nilai tukar masih membayangi pergerakan pasar secara keseluruhan.

“Namun masih berlanjutnya aksi net sell asing dan nilai tukar rupiah yang masih cukup tertekan oleh dolar AS diprediksi menjadi katalis negatif untuk pasar,” imbuh analis CGS International.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed