IHSG Melonjak 1,59 Persen ke Level 6.401 Ditopang Sektor Kesehatan

Smallest Font
Largest Font

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat sebesar 1,59 persen hingga mencapai level 6.401,89 pada penutupan perdagangan Jumat (14/8). Lonjakan ini didorong oleh aksi beli di seluruh sektor saham sebagaimana dilansir dari Detik Finance.

Penguatan indeks domestik ini ditopang oleh kenaikan di 11 sektor saham Bursa Efek Indonesia (BEI). Sektor kesehatan mencatatkan kinerja terbaik dengan lonjakan mencapai 3,09 persen sepanjang perdagangan.

Sejumlah saham mencatat lonjakan harga signifikan, seperti BYAN yang melonjak 20,00 persen, MPRO naik 17,92 persen, dan SRAJ bertambah 15,38 persen. Namun, beberapa saham likuid justru melemah, di antaranya BREN turun 2,46 persen, TPIA terkoreksi 2,43 persen, dan BBCA menyusut 0,39 persen.

Aksi lepas saham oleh pemodal luar negeri masih berlanjut di tengah penguatan IHSG tersebut. Investor asing mencatatkan penjualan bersih senilai Rp396,50 miliar di pasar reguler, sehingga akumulasi penjualan bersih di seluruh pasar mencapai Rp1,03 triliun.

Pergerakan ini berbanding terbalik dengan bursa saham Amerika Serikat yang ditutup melemah. Indeks Dow Jones merosot 0,51 persen ke level 53.459, S&P 500 melandai 0,52 persen ke 7.745, dan Nasdaq melemah 0,32 persen ke level 26.644.

Di tingkat makro domestik, pemerintah menargetkan penyelesaian regulasi Bursa Mineral dan Komoditas Strategis pada 17 September. Bursa komoditas ini diproyeksikan mulai beroperasi pada 1 Januari 2027 guna mendukung penetapan harga dan daya tawar emiten tambang.

Sentimen positif pasar modal turut mendorong penguatan aset berbasis Indonesia lainnya. Dana pertukaran ETF EIDO menguat 0,96 persen, sementara indeks MSCI Indonesia tercatat naik 0,21 persen.

Perkembangan turut terjadi pada emiten Sumi Indo Kabel Tbk (IKBI) yang membidik target penjualan USD266 juta pada 2026. Angka tersebut naik 15,65 persen dari realisasi penjualan tahun 2025 yang sebesar USD230 juta.

Hingga semester I 2026, IKBI baru merealisasikan penjualan USD75,43 juta atau 28,36 persen dari target. Perusahaan membutuhkan penjualan USD190,57 juta pada semester II 2026 demi mengejar target tersebut.

Pendapatan IKBI naik 18,11 persen secara tahunan, tetapi beban pokok penjualan yang membengkak 21,40 persen menekan laba bruto turun 20,88 persen menjadi USD3,94 juta. Saham IKBI ditutup pada level Rp550 per saham.

Sementara itu, Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) memutuskan pembagian dividen tunai interim sebesar Rp3,54 per saham atau senilai Rp34,98 miliar untuk periode yang berakhir 30 Juni 2026.

Dividen BPII tersebut memiliki rasio pembayaran 81,68 persen dari laba bersih semester I 2026 yang tercatat Rp42,83 miliar. Cum date pasar reguler ditetapkan pada 26 Agustus 2026 dan pembayaran dijadwalkan pada 11 September 2026.

Aksi korporasi besar juga disiapkan Siloam International Hospitals Tbk (SILO) dengan merencanakan akuisisi 100 persen saham 14 perusahaan pemilik aset properti rumah sakit dari entitas anak First REIT.

Estimasi nilai transaksi akuisisi SILO mencapai Rp6,91 triliun atau setara 67,57 persen dari total ekuitas perusahaan per 31 Maret 2026. Pendanaan akuisisi ini akan bersumber dari fasilitas pinjaman perbankan.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed