IHSG Melesat 4,24 Persen Berkat Tiga Katalis Domestik
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 4,24 persen sepanjang periode 13-17 Juli 2026 hingga kembali menembus level psikologis 6.100. Lonjakan ini didorong oleh pelonggaran metodologi penyaringan saham oleh MSCI, bertahannya peringkat kredit Indonesia dari S&P, serta kenaikan investasi asing langsung.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM melaporkan realisasi investasi kuartal II-2026 menembus Rp 511,8 triliun. Capaian tersebut membuat total investasi semester I-2026 menyentuh Rp 1.010,6 triliun, atau setara dengan 49,5 persen dari target nasional tahunan sebesar Rp 2.041,3 triliun. Komposisi Penanaman Modal Asing (PMA) mendominasi dengan nilai Rp 257,7 triliun, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencatatkan angka Rp 254,1 triliun.
Analis Ekuitas PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, memaparkan bahwa pergerakan indeks selama satu pekan ini didominasi oleh sentimen positif dari dalam negeri.
“Memang penyebab penguatan IHSG ini bisa dibilang cukup banyak sebenarnya faktornya, baik itu dari sisi global maupun domestik, tapi di pekan ini memang lebih banyak itu dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sifatnya domestik,” ujar Imam saat sesi wawancara dengan Kompas.com, Jumat (17/7/2026).
Sentimen pertama datang dari keputusan MSCI melonggarkan penyaringan saham yang mengalami kenaikan harga ekstrem atau Extreme Price Increase (EPI). Pelonggaran ini memberikan angin segar karena membuka peluang bagi emiten berkapitalisasi besar asal Indonesia untuk masuk dalam rebalancing indeks MSCI, setelah sebelumnya diterpa ketidakpastian sejak awal 2026 akibat kebijakan pembekuan indeks oleh lembaga tersebut.
Kebijakan pembekuan sementara oleh MSCI sebelumnya dipicu oleh kekhawatiran investor global mengenai transparansi kepemilikan saham dan indikasi perdagangan terkoordinasi. Kondisi tersebut memicu aksi jual bersih investor asing yang masif di pasar ekuitas domestik sepanjang tahun berjalan.
“Kalau kita lihat pertama hari ini ada pengumuman dari MSCI (katalis positif), dimana MSCI ini menjadi salah satu kendala utama mengapa kita lihat IHSG kita dari titik tertingginya, kurang lebih di bulan Februari, melemah sampai dengan titik terendahnya sampai dengan hari ini itu kurang lebih sekitar 30-an persen sudah melemah,” paparnya.
Berdasarkan pengumuman resmi per Jumat (17/7/2026), metodologi baru MSCI akan diterapkan pada tinjauan indeks Agustus 2026. Saham berkategori EPI dengan Foreign Inclusion Factor (FIF) bernilai 0,75 atau lebih kini dibebaskan dari penyaringan EPI, sehingga bisa dipertimbangkan masuk ke MSCI Global Standard Index.
Bagi saham berkategori EPI dengan nilai FIF di bawah 0,75, aturan ketat tetap berlaku. Saham non-konstituen MSCI Investable Market Index (IMI) tidak akan dimasukkan ke MSCI Global Standard Index, sedangkan konstituen MSCI Small Cap Index yang mengalami EPI bakal dievaluasi berdasarkan batas kapitalisasi pasarnya.
“Nah hari ini bisa dibilang MSCI memberikan sebuah angin segar lah, sedikit angin segar, walaupun nanti tetap direview sampai dengan bulan November 2026 ini,” pungkas dia.
Fleksibilitas ini dinilai memberikan ruang bagi saham berlikuiditas tinggi untuk lolos seleksi indeks dunia.
“Nah angin segarnya itu, MSCI itu akan memberikan toleransi bagi saham-saham ataupun perusahaan-perusahaan yang memiliki foreign inclusion factor minimal 0,75, yang mana ini mengindikasikan saham ini bisa dibilang simply liquid lah,” tukas Imam.
Katalis kedua didukung oleh S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil. Langkah S&P ini memperkuat kepercayaan pasar karena berbeda dengan dua lembaga pemeringkat internasional lain yang sempat memotong prospek Indonesia menjadi negatif pada awal tahun.
Faktor penguat ketiga datang dari pertumbuhan investasi asing langsung (FDI) kuartal II-2026 sebesar 27,4 persen secara tahunan menjadi Rp 257,7 triliun. Realisasi FDI dipimpin oleh investor asal Hong Kong senilai 7,6 miliar dollar AS, diikuti oleh Tiongkok, Jepang, Singapura, dan Amerika Serikat, yang menunjukkan kuatnya komitmen investasi jangka panjang di tengah arus keluar dana di bursa saham.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan penguatan IHSG ke level 6.100 disokong oleh reli saham-saham perbankan raksasa. Tiga emiten yang menjadi motor utama penggerak indeks adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow