IHSG Menguat ke Level 6.564 Didorong Pengesahan Gubernur BI

Smallest Font
Largest Font

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 39,03 poin atau 0,6 persen ke level 6.564 pada sesi pertama perdagangan Selasa (1/9/2026). Pergerakan positif ini ditopang kepastian kepemimpinan Bank Indonesia setelah DPR RI mengesahkan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI periode 2026-2031 dalam Rapat Paripurna, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Pengesahan kepemimpinan bank sentral tersebut memberikan kepastian arah kebijakan moneter di tengah tekanan ekonomi eksternal. Lembaga riset Pilarmas Investindo Sekuritas mencatat bahwa indikator ekonomi domestik saat ini masih berada dalam kondisi relatif terjaga.

"Kebijakan BI yang konsisten dalam menjaga stabilitas moneter dan perekonomian juga menjadi perhatian pasar. Di sisi lain, sejumlah indikator ekonomi domestik menunjukkan kondisi yang relatif terjaga," tulis Pilarmas dalam risetnya, Selasa (1/9/2026).

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Agustus 2026 sebesar 0,21 persen secara bulanan dan 3,19 persen secara tahunan, yang masih masuk sasaran target BI. Selain itu, neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 mencetak surplus US$120 juta setelah sempat mengalami defisit pada bulan sebelumnya. Kinerja ekspor nasional juga tumbuh 6,05 persen mencapai US$26,22 miliar pada Juli 2026.

Meskipun indikator makro terjaga, aktivitas manufaktur dalam negeri mengalami kontraksi. Indeks Manufaktur PMI Indonesia turun dari level 50,2 pada Juli menjadi 49,8 pada Agustus 2026.

Di sisi lain, pergerakan pasar saham masih dibayangi oleh eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz. Pertempuran tersebut memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak yang dapat memacu inflasi global.

"Perkembangan tersebut menandai kembali meningkatnya pertempuran antara AS dan Iran setelah sekitar satu bulan," jelas Pilarmas.

Sentimen negatif pasar global kian diperkuat oleh proyeksi kenaikan suku bunga acuan The Fed yang disampaikan oleh Ketuanya, Kevin Warsh. Peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS pada September melesat hingga di atas 65 persen.

"Kenaikan ekspektasi suku bunga tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk saham, karena investor kembali mencermati prospek likuiditas dan biaya pendanaan global," paparnya.

Kendati demikian, penguatan IHSG hingga penutupan sesi pertama menunjukkan daya tahan pasar modal Indonesia menghadapi tekanan eksternal. Saham SQMI, KKES, BSIM, SAFE, dan AIMS tercatat menjadi penopang penguatan terbesar, sementara saham RGAS, KICI, BIKE, OBMD, dan BAJA mengalami penurunan terdalam.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed