Kiwoom Sekuritas Prediksi IHSG Konsolidasi dengan Sembilan Saham Pilihan hingga Akhir 2026
Kiwoom Sekuritas Indonesia mengantisipasi indeks harga saham gabungan (IHSG) akan memasuki fase konsolidasi pada September 2026 hingga akhir tahun. Perusahaan sekuritas ini merekomendasikan sembilan saham pilihan untuk dicermati oleh investor, yakni BBRI, INCO, ANTM, JPFA, MTEL, KLBF, JSMR, BBNI, dan PANI.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, memperkirakan peluang IHSG ditutup positif pada bulan September berada di kisaran 40–45%, sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis 33% pada periode 2017–2026. Meski demikian, pasar masih cenderung menunjukkan tren konsolidasi dengan kecenderungan pelemahan dalam jangka pendek.
Pergerakan IHSG diperkirakan berada di rentang 6.300 hingga 6.650 sepanjang September, dengan tekanan terbesar datang dari rangkaian pertemuan bank sentral utama dunia serta rebalancing indeks FTSE Russell yang dijadwalkan pada pertengahan hingga akhir bulan. Liza menyatakan, "Kami memperkirakan IHSG bergerak pada kisaran tersebut, dengan tekanan tertinggi di sekitar minggu sibuk bank sentral global dan rebalancing FTSE Russell." Proyeksi ini dikutip dari Investor Daily.
Setelah mencatat reli sebesar 5,06% sepanjang Agustus 2026, pasar dihadapkan pada sentimen global yang kompleks. Sentimen ini berasal dari arah kebijakan suku bunga The Fed, Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of Japan (BOJ), serta ketegangan geopolitik di Selat Hormuz. The Fed membuka kemungkinan menaikkan suku bunga daripada memangkasnya, sementara ECB dan BOJ mulai mengadopsi sikap kebijakan moneter yang lebih ketat.
Di sisi domestik, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II tercatat sebesar 5,29% secara tahunan, dan suku bunga acuan BI Rate masih stabil di 5,75%. Tren harga komoditas ekspor utama seperti minyak sawit mentah (CPO), nikel, dan emas juga menunjukkan arah kenaikan yang mendukung pasar saham.
Liza menambahkan bahwa penguatan pasar juga didukung oleh komitmen DPR terhadap Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset. Meski demikian, September secara historis merupakan bulan yang sulit bagi IHSG dengan rata-rata kinerja negatif 0,94% dan probabilitas penguatan hanya 33%. Pola ini juga tercermin dalam enam dari sembilan tahun terakhir yang menunjukkan pelemahan setelah penguatan Agustus.
Risiko tambahan berasal dari kecenderungan hawkish secara bersamaan dari The Fed, ECB, dan BOJ pada pertengahan September. Rebalancing FTSE Russell yang mempengaruhi 39 saham Indonesia juga diperkirakan menambah volatilitas. Selain itu, investor asing masih mencatat penjualan bersih signifikan sebesar Rp 97,28 triliun sepanjang tahun berjalan, yang berkaitan dengan persiapan verifikasi MSCI pada November 2026.
Kiwoom Sekuritas memandang konsolidasi ini bukan sebagai perubahan tren besar, melainkan sebagai jeda sehat dalam proses penilaian ulang (re-rating) pasar saham Indonesia. Target IHSG akhir tahun 2026 tetap dipertahankan di kisaran 7.250 hingga 7.700, dengan asumsi kemajuan berkelanjutan menuju re-rating seiring peninjauan MSCI.
Pada periode Oktober hingga Desember, historis IHSG menunjukkan potensi penguatan dengan rata-rata kenaikan 1,16% hingga 2,41% dan probabilitas kenaikan mencapai 78%. Oleh karena itu, volatilitas September dianggap sebagai peluang bagi investor dengan horizon menengah hingga panjang untuk melakukan re-entry pada saham-saham fundamental kuat.
Berikut penjelasan singkat rekomendasi dan target harga saham pilihan Kiwoom Sekuritas hingga akhir 2026:
1. BBRI – Target harga Rp 3.600, didukung oleh program buyback senilai Rp 500 miliar dan dominasi pada segmen UMKM serta kekuatan dana murah CASA.
2. INCO – Target harga Rp 6.300, mendapat dukungan dari tren harga nikel global yang kuat dan fasilitas HPAL di Morowali dan Pomalaa.
3. ANTM – Target harga Rp 4.800, ditopang oleh harga jual emas, nikel, dan bauksit yang tinggi serta dividen yang menarik.
4. JPFA – Target harga Rp 3.140, dengan perbaikan volume bisnis dan margin serta stabilisasi harga ayam hidup.
5. MTEL – Target harga Rp 705, didorong oleh merger PST-UMT yang memperluas layanan ISP, IoT, dan digital serta program buyback saham Rp 2,98 triliun.
6. KLBF – Target harga Rp 970, dicatat memiliki pertumbuhan bisnis distribusi dan kesehatan konsumen yang tangguh dengan P/E ratio 9,4 kali.
7. JSMR – Target harga Rp 3.850, valuasi di bawah rata-rata historis PBV dan EV/EBITDA dengan fundamental yang defensif.
8. BBNI – Target harga Rp 4.100, didukung pertumbuhan kredit solid dan net interest margin 3,5–3,8%, serta LDR stabil di 83,5%.
9. PANI – Target harga Rp 9.925, seiring peningkatan okupansi NICE convention center dan kepemilikan tanah premium, dengan Hilton direncanakan beroperasi 2027.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow