Harga Minyak Brent Melonjak Akibat Blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz

Smallest Font
Largest Font

Harga minyak Brent melonjak sekitar 4,8 persen ke level 87,3 dolar AS per barel pada Selasa (14/7) sore setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan pemberlakuan kembali blokade laut terhadap Iran di Selat Hormuz.

Kebijakan tersebut disertai tuntutan tarif 20 persen atas seluruh kargo yang melewati selat strategis itu guna melarang Iran dan pelanggannya melintas. Lonjakan ini melanjutkan tren kenaikan setelah hari sebelumnya harga minyak mentah melompat 9,6 persen ke level 83,3 dolar AS per barel.

Ketegangan meningkat karena militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap sasaran di Iran selama tiga hari berturut-turut, termasuk menargetkan jalur kereta api penghubung Iran ke China dan Rusia. Langkah ini memicu reaksi balasan berupa serangan terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, Yordania, dan Pelabuhan Duqm di Oman.

Pemberlakuan kembali blokade laut oleh pusat komando militer Amerika Serikat dimulai pada Selasa (14/7) pukul 16.00 waktu New York, menyasar seluruh pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Hal tersebut memicu kekhawatiran baru atas tekanan inflasi dan arah suku bunga global, meskipun pasar saham Asia dan Indonesia masih relatif kuat menahan tekanan.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, merespons rencana penerapan tarif tersebut dengan menyatakan posisi negaranya dalam menjaga kawasan perairan itu.

"Iran akan selalu menjadi penjaga Selat Hormuz," kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.

Ia kemudian menyindir besaran tarif yang diusulkan oleh pihak Amerika Serikat karena dinilai terlampau membebani.

"Tarif sebesar 20% dari nilai kargo terlalu tinggi," ujar Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.

Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan sikap negaranya terkait kelanjutan komitmen nota kesepahaman yang sebelumnya disepakati di Islamabad pada 17 Juni 2026.

"Kesepahaman ini adalah masalah timbal balik. Jika pihak Amerika tetap berkomitmen terhadap nota kesepahaman tersebut, kami juga akan memenuhi komitmen kami," kata Masoud Pezeshkian, Presiden Iran.

Di sisi lain, lembaga pemantau maritim Tanker Trackers melaporkan Iran tetap berhasil mengirimkan lebih dari 80 juta barel minyak mentah dan produk olahan senilai 6 miliar dolar AS dalam 26 hari terakhir. Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad memastikan operasional ekspor komoditas tersebut tidak terganggu.

"Mekanisme ini tidak dilucuti selama masa penangguhan 60 hari dan tetap berlaku," kata Mohsen Paknejad, Menteri Perminyakan Iran.

Paknejad menegaskan bahwa Teheran sudah mengantisipasi langkah pembatasan ekonomi dari pihak luar.

"Lama membangun struktur yang diperlukan untuk melawan dampak sanksi AS," ujar Mohsen Paknejad, Menteri Perminyakan Iran.

Sanksi penjualan minyak tersebut kembali aktif sejak 7 Juli 2026 setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat mengakhiri masa pencabutan sanksi darurat. Pemulihan sanksi dipicu oleh rangkaian insiden yang menimpa kapal-kapal komersial berbendera Singapura dan Siprus di sekitar perairan Selat Hormuz.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed