Harga Emas Spot Anjlok 2.72 Persen Sentuh Level Terendah Dua Pekan
Tekanan dari lonjakan imbal hasil (yield) obligasi serta penguatan dolar AS memicu penurunan tajam harga emas pada perdagangan Selasa (1/9/2026). Dilansir dari Investor Daily, instrumen logam mulia ini menyentuh titik terendahnya dalam rentang dua pekan terakhir.
Di pasar spot, harga emas ditutup ambles 2,72 persen menuju level US$ 4.328,36 per ons troi. Posisi ini sempat merosot hingga ke level US$ 4.362,89 per ons troi yang merupakan angka terendah sejak 19 Agustus.
Kondisi ini makin memperjauh posisi emas dari garis moving average (MA) 200 hari di kisaran US$ 4.528 per ons troi. Level teknikal krusial tersebut telah ditembus sejak 28 Agustus lalu.
Koreksi serupa melanda kontrak berjangka emas AS yang merosot 2,36 persen dan berakhir di level US$ 4.375,7 per ons troi. Aksi lepas aset oleh pelaku pasar menjadi pemicu utama pergerakan ini.
Analis pasar American Gold Exchange Jim Wyckoff menyebutkan bahwa aksi jual teknikal membebani pergerakan harga emas. Imbal hasil obligasi global melambung ke titik tertinggi yang belum pernah terlihat selama bertahun-tahun, kata Wyckoff.
Ia juga menambahkan bahwa penurunan harga di bawah MA 200 hari memberikan sinyal teknikal penting bagi para pelaku pasar. Lonjakan yield obligasi AS ke level tertinggi sejak Januari 2025 terjadi di tengah eskalasi geopolitik Timur Tengah yang memicu kekhawatiran inflasi.
Meskipun emas dipandang sebagai alat lindung nilai inflasi, kenaikan suku bunga dan yield obligasi meningkatkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil. Di sisi lain, penguatan dolar AS membuat emas makin mahal bagi pemegang mata uang lain.
Pekan lalu, emas sempat menyentuh level tertinggi tiga bulan sebelum akhirnya anjlok lebih dari 3 persen pada Jumat (28/8/2026). Penurunan itu menyusul pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh bahwa bank sentral masih harus bekerja keras menekan inflasi ke target 2 persen.
Pernyataan tersebut mendorong ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga acuan bulan ini kini berada di angka 66 persen.
Pasar kini menantikan rilis laporan ketenagakerjaan ADP pada Rabu (2/9) serta data nonfarm payrolls pada Jumat (4/9). Kedua indikator ekonomi AS tersebut menjadi pertimbangan utama The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Jalur dengan resistensi paling kecil saat ini kemungkinan adalah pergerakan sideways atau cenderung turun untuk pasar emas dalam jangka pendek, tutur Wyckoff.
Pelemahan ini juga menjalar ke pasar logam mulia lainnya. Harga perak spot ambrol 3,7 persen ke US$ 64,08 per ons, platinum terpangkas 2,88 persen ke US$ 1.744,3 per ons, dan palladium rontok 3,72 persen menjadi US$ 1.310,8 per ons.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow