Harga Emas Dunia Turun Mendekati Level Terendah Dua Pekan

Smallest Font
Largest Font

Harga emas dunia mengalami penurunan pada perdagangan Senin (31/8/2026) hingga mendekati level terendah dalam hampir dua pekan. Pelemahan ini dipicu oleh komentar hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh yang memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Selain itu, tekanan terhadap logam mulia makin meningkat seiring lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi. Di pasar spot, harga emas ditutup melemah 0,13 persen menjadi US$ 4.449,19 per ons troi setelah sempat menyentuh posisi terendah sejak 19 Agustus 2026. Sementara itu, harga emas berjangka AS pengiriman Desember 2026 anjlok 0,72 persen ke level US$ 4.497,3 per ons troi.

Meskipun tertekan pada akhir bulan, harga emas spot masih mencatat kenaikan bulanan sekitar 10 persen sepanjang Agustus. Kinerja tersebut menempatkan emas pada jalur penguatan bulanan terbaik sejak Januari. Tekanan terhadap harga emas juga diperberat oleh lonjakan harga minyak mentah lebih dari 2 persen setelah AS menyerang pulau milik Iran di Selat Hormuz, yang kemudian direspons oleh Teheran hingga memperluas kekhawatiran inflasi global.

Faktor suku bunga tinggi dan lonjakan harga energi menjadi pemicu utama pergerakan pasar saat ini.

"Alasan terbesar saat ini adalah suku bunga yang lebih tinggi dan ekspektasi inflasi yang meningkat, didorong oleh energi dan penurunan persediaan minyak," kata Senior Market Strategist di StoneX Daniel Pavilonis.

Penguatan imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar turut memperberat langkah emas di pasar global.

"Yield obligasi AS terus menguat, dolar juga terus menguat. Saya pikir kondisi itu menempatkan emas dalam posisi yang sulit," ujar Pavilonis.

Pelemahan tajam emas sebelumnya terjadi pada Jumat (28/8/2026) saat harga anjlok lebih dari 3 persen, mencatatkan penurunan harian terbesar sejak 10 Juni. Penurunan tersebut berlangsung usai Warsh memberikan isyarat dalam simposium Jackson Hole bahwa pembuat kebijakan kemungkinan mengambil langkah lanjutan jika inflasi tidak mendekati target 2 persen.

Pernyataan tersebut mengubah pergeseran ekspektasi pasar secara signifikan. Data CME FedWatch Tool menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September melonjak menjadi sekitar 64 persen, dari posisi sebelumnya sekitar 36 persen sebelum pernyataan Warsh.

Pergerakan pasar selanjutnya menantikan rilis data ketenagakerjaan AS, termasuk laporan ADP dan nonfarm payrolls, sebagai penunjuk arah kebijakan moneter AS. Di sisi lain, harga perak spot naik 0,23 persen ke level US$ 66,54 per ons, sementara harga platinum turun 1,49 persen menjadi US$ 1.796 per ons, dan paladium merosot lebih dari 4,49 persen ke posisi US$ 1.361,45 per ons.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed