Harga Emas Melemah Akibat Kebijakan The Fed, China Jadi Penopang

Smallest Font
Largest Font

Harga emas mengalami pelemahan pada Senin (31/8/2026) di posisi US$ 4447 per troy ons setelah sebelumnya anjlok tajam akibat sinyal hawkish dari Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang menegaskan kekuatan ekonomi AS dan inflasi yang tinggi. Penurunan harga emas yang mencapai 3,22% pada Jumat (28/8/2026) menyebabkan harga emas jatuh ke level US$ 4452,67 per troy ons dan memperpanjang tekanan pada logam mulia tersebut. Kevin Warsh menyampaikan bahwa peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September meningkat menjadi sekitar 57%, yang memicu penguatan dolar AS dan menekan harga emas.

"Ekonomi AS masih kuat dan inflasi tetap terlalu tinggi," ujar Kevin Warsh.

Kondisi ini memperlihatkan bagaimana ekspektasi kebijakan moneter dapat dengan cepat mengubah momentum pasar logam mulia dan menjadi hambatan utama bagi harga emas. Namun, tren kenaikan harga emas sepanjang Agustus masih bertahan, didorong oleh permintaan emas fisik dari China yang membeli lebih dari 40 ton emas melalui pasar over-the-counter London pada Juni 2026, menjadi pembelian terbesar kedua sejak awal 2025.

China juga tercatat mempertahankan tren pembelian emas selama 20 bulan berturut-turut, menunjukkan bahwa emas masih menjadi bagian penting dari strategi diversifikasi cadangan mereka. "Emas jelas diuntungkan oleh dedolarisasi, karena para investor memandang logam mulia sebagai penyimpan nilai yang andal dan alternatif bagi mata uang cadangan tradisional," ujar Chief Investment Office UBS.

UBS memperkirakan harga emas berpotensi menembus US$ 5.400 per troy ons dalam 12 bulan mendatang, didukung oleh tren dedolarisasi, pelemahan dolar AS, dan tingginya pembelian oleh bank sentral. Menurut UBS, pelemahan dolar AS selama sebulan terakhir sebesar 2,4% menambah peluang kenaikan harga emas secara jangka menengah hingga panjang. Bank sentral, khususnya People's Bank of China, tercatat menambah cadangan emas sebesar 20 ton pada Juli 2026, menandai kenaikan bulanan terbesar sejak Oktober 2023 dan memperkuat permintaan institusional terhadap emas.

"Pembelian bank sentral menjadi bagian dari strategi mengurangi ketergantungan terhadap aset berbasis dolar AS," tambah UBS.

Meski prospek jangka panjang tetap positif, risiko jangka pendek dari data ekonomi AS yang kuat dan kebijakan The Fed yang hawkish masih dapat menekan harga emas. Volume perdagangan emas berjangka juga menurun signifikan sejak pertengahan Agustus, menunjukkan kehati-hatian investor menunggu kepastian arah kebijakan moneter AS. Perak pun mengalami tekanan harga, melemah 0,3% ke US$ 66,16 per troy ons pada hari yang sama dan jatuh 4,2% pada pekan sebelumnya.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed