Harga Emas Dunia Diproyeksikan Bergerak Fluktuatif Pekan Depan

Smallest Font
Largest Font

Prospek pergerakan harga emas dunia diproyeksikan tetap berada dalam jalur kenaikan untuk jangka menengah, meskipun potensi koreksi masih akan membayangi perdagangan pada sepekan ke depan, Minggu (30/8/2026).

Proyeksi pergerakan komoditas tersebut dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global serta penyesuaian kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, dilansir dari Investor Daily.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi menuturkan bahwa potensi penurunan harga diperkirakan menembus batas bawah tertentu sebelum akhirnya berbalik menguat.

"Kemudian untuk resistance pertama harga emas jika mengalami kenaikan adalah di US$ 4.553 per troy ounce. Kemudian resisten kedua di US$ 4.682 per troy ounce," kata Ibrahim.

Analisis teknikal harian mengindikasikan rentang perdagangan yang cukup lebar sepanjang pekan mendatang.

"Jadi harga emas dunia dalam sepekan kemungkinan ditransaksikan di US$ 4.262 per troy ounce dan resistance di US$ 4.682 per troy ounce," beber Ibrahim.

Faktor geopolitik di kawasan Selat Hormuz menjadi salah satu pemicu utama fluktuasi harga akibat perbedaan klaim kendali antara militer Amerika Serikat dan pemerintah Iran.

"Dari sisi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat yang saling mengklaim tentang Selat Hormuz. Kita melihat bahwa AS mengatakan blokade di Selat Hormuz sampai saat ini sudah dilakukan oleh armada lautnya. Namun Teheran sendiri mengklaim bahwa kendali atas jalur perairan tersebut dikuasai oleh Iran," kata Ibrahim.

Eskalasi konflik di Eropa Timur turut memberi tekanan pada stabilitas pasar keuangan global.

"Kemudian pertemuan (Ketua The Fed) Kevin Warsh di Kongres bahwa inflasi AS masih cukup tinggi. Dia juga menyampaikan beberapa penyataan kunci tentang arah kebijakan moneter dan prinsip kepemimpinannya, bahwa saat ini bank sentral melihat pergerakan perekonomian dan tidak ada toleransi untuk inflasi tinggi," kata Ibrahim.

Kondisi inflasi Amerika Serikat yang bertahan di level tinggi berpotensi memicu koreksi tajam pada nilai komoditas emas.

"Dan dalam pertemuan sebelumnya di bulan Agustus, Kevin Warsh mengatakan tidak akan meningkatkan suku bunga karena saat ini relatif lebih tinggi di masa kepemimpinan Powell. Hal ini yang kemungkinan besar membuat pasar sedikit bergejolak walaupun terkoreksi sesaat," kata Ibrahim.

Meskipun terjadi gejolak jangka pendek, aksi korporasi dan pembelian oleh bank sentral global diperkirakan bakal menopang rebound harga emas.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed