Harga Emas Melonjak Dekati Rekor Baru Pasca Penguatan Bulanan Terbaik
Harga emas terus menunjukkan momentum penguatan dengan berada di kisaran US$ 4.650 per ons troi pada Rabu (26/8/2026), mendekati rekor tertinggi akhir Januari. Kenaikan selama lima pekan berturut-turut ini berpotensi mencatatkan kinerja bulanan terbaik bagi komoditas tersebut sejak 1999, dilansir dari Investor Daily.
Di tengah lonjakan harga ini, mantan bankir sekaligus pengajar investor ritel Felix Prehn memberikan pandangan mengenai peran aset tersebut. Ia mengingatkan bahwa emas berfungsi utama sebagai instrumen perlindungan nilai dari depresiasi mata uang, bukan alat penghasil kekayaan secara otomatis.
"Saya selalu mengatakan emas tidak naik, dolar yang turun. Jadi emas melindungi kita, tetapi tidak benar-benar membuat kita kaya," kata Felix Prehn, Mantan Bankir.
Prehn mengibaratkan kepemilikan emas seperti asuransi mobil yang memberikan perlindungan dan rasa aman saat guncangan ekonomi terjadi. Meski pasar memasuki fase bullish, pergerakan emas dipengaruhi variabel kompleks seperti inflasi, suku bunga, yield obligasi pemerintah, nilai tukar dolar AS, hingga geopolitik.
Dinamika pasar terlihat pada awal tahun ketika konflik Iran mendongkrak harga minyak dan memicu kekhawatiran inflasi. Kondisi tersebut mendorong yield obligasi pemerintah melonjak hingga di atas 5%, yang memicu investor institusional beralih dari emas ke surat utang.
Pergeseran dana tersebut sempat memicu koreksi tajam pada harga emas. Akibatnya, sebagian investor ritel yang membeli di tingkat puncak mengalami kerugian sementara.
"Mereka membeli pada Januari dan kemudian berada dalam posisi rugi 20%-30%, sehingga menunggu harga kembali ke titik impas," kata Felix Prehn, Mantan Bankir.
Prehn menambahkan bahwa kesalahan umum investor ritel adalah memperlakukan emas layaknya saham yang harus selalu memberikan dividen atau capital gain tinggi. Menurutnya, emas merupakan instrumen diversifikasi jangka panjang yang tidak bergantung pada kinerja finansial suatu perusahaan.
Perbedaan mendasar juga terlihat antara emas fisik dan saham perusahaan tambang. Investor dinilai perlu lebih cermat dalam mengelola aset pertambangan.
"Anda tidak memegang saham perusahaan tambang selamanya. Anda bisa memegang emas atau bahkan perak selamanya. Jadi, keduanya merupakan aset yang sangat berbeda," kata Felix Prehn, Mantan Bankir.
Sektor pertambangan sendiri mulai mencatatkan pemulihan arus kas seiring lonjakan harga komoditas. Newmont membukukan arus kas bebas sebesar US$ 2,2 miliar pada kuartal terakhir, sementara Agnico Eagle meraup lebih dari US$ 1,3 miliar.
Indeks saham penambang emas VanEck Gold Miners ETF (GDX) turut menguat sekitar 14% sejak pertengahan Agustus. Namun, Prehn menekankan bahwa pembangunan tambang baru membutuhkan waktu hingga 15 tahun dari eksplorasi hingga produksi, sehingga kenaikan arus kas saat ini tidak serta-merta menambah pasokan emas fisik secara instan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow