Harga Emas Dunia Anjlok Tertekan Inflasi AS 27 Agustus

Smallest Font
Largest Font

Harga emas dunia merosot ke level US$4.592,03 per troy ons pada penutupan perdagangan Rabu (26/8/2026) akibat penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil obligasi menyusul memanasnya data inflasi.

Namun, tren penurunan tersebut sedikit tertahan pada Kamis (27/8/2026) pagi dengan harga emas yang terpantau kembali menguat 0,45 persen menjadi US$4.612,69 per troy ons.

Berbeda dengan pergerakan emas, harga perak justru melesat 1,26 persen ke posisi US$68,96 per troy ons pada Kamis pagi setelah sempat terpuruk tiga hari berturut-turut.

Pelemahan tajam harga emas sebelumnya dipicu oleh indeks dolar AS yang menyentuh level 99,15 atau titik tertinggi dalam lima hari terakhir.

Kondisi ini diperparah oleh naiknya imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun menjadi 4,66 persen, merespons Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) AS Juli 2026 yang melonjak 3,7 persen secara tahunan.

Vice President sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, menilai koreksi yang terjadi pada instrumen logam mulia ini masih tergolong wajar sebagai respons pasar.

"Pergerakan harga emas sebelum data hari ini lebih merupakan aksi ambil untung. Data PCE sebagian besar sesuai ekspektasi, sehingga saat ini harga emas berkonsolidasi dalam kisaran perdagangan kemarin," kata Grant.

Meski mengalami koreksi, Grant memproyeksikan tren penguatan jangka panjang masih terbuka lebar dengan potensi emas menembus US$5.000 per troy ons pada akhir tahun ini.

Di sisi lain, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menyoroti tantangan teknikal yang dihadapi logam kuning tersebut sebelum data inflasi AS dirilis.

"Ini hanya penurunan momentum. Emas bergerak menuju level resistance kuat di sekitar US$4.700," ujar Melek.

Selain faktor indikator inflasi AS, pergerakan harga komoditas ini juga dipengaruhi oleh langkah agresif Departemen Keuangan AS yang berencana menggandakan program pembelian kembali obligasi jangka panjang.

Dari sisi geopolitik, meredanya ketegangan di kawasan Timur Tengah turut mengurangi kekhawatiran terkait lonjakan inflasi global secara lebih luas.

Iran dikabarkan telah memulai kembali perundingan bersama Oman untuk membahas pengelolaan lalu lintas pengiriman komersial melalui jalur strategis Selat Hormuz.

Sementara itu di kawasan Asia, permintaan investasi tetap menunjukkan sinyal positif dengan impor emas bersih China melalui Hong Kong pada Juli tercatat meningkat sekitar 11 persen secara bulanan.

Berdasarkan alat ukur CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memproyeksikan probabilitas 40 persen bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga bulan depan yang dapat kembali menekan daya tarik emas.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed