BofA Prediksi Harga Emas Berpotensi Tembus US$ 5.000 per Troy Ounce
Tren positif investor spekulatif terhadap pergerakan emas terus menguat dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian mengenai utang pemerintah Amerika Serikat yang menghidupkan kembali perdagangan antisipasi penurunan nilai dolar AS. Meskipun posisi spekulatif optimis berada di level tertinggi tahun ini, sentimen pasar secara umum masih di bawah posisi 12 bulan terakhir.
Kondisi tersebut dinilai tetap memberikan ruang bagi kenaikan harga logam mulia. Survei Manajer Dana Global periode Agustus 2026 yang dirilis Bank of America (BofA) mencatat harga emas masih menyimpan potensi kenaikan lanjutan, seperti dilansir dari Investor Daily. Kenaikan ini tetap terbuka meski sentimen pasar terbilang belum sepenuhnya pulih.
Kepala Riset Global BofA, Candace Browning Platt, menyampaikan analisis mengenai arah pergerakan aset komoditas tersebut dalam catatan resminya. Ia menilai aktivitas pembelian aset perlu mengalami percepatan volume.
"Model tim Strategi Komoditas kami menunjukkan bahwa aktivitas pembelian investor saat ini lebih sejalan dengan harga emas di level US$ 4.000, dan pembelian oleh investor perlu meningkat lebih cepat sebelum harga dapat mencapai US$ 5.000," kata Candace Browning Platt. Ia juga menyoroti peran penting dari otoritas moneter global dalam menjaga momentum reli tersebut. Akumulasi aset oleh otoritas moneter tercatat melampaui tren historis harian.
"Pembelian oleh bank sentral sudah memberikan kontribusi signifikan dan berada jauh di atas rata-rata 12 bulan pada bulan Juni. Pertemuan Jackson Hole yang bernada dovish (mendukung kebijakan moneter longgar) pekan ini akan menjadi faktor pendorong kenaikan harga emas," ujar Candace Browning Platt. Pasar emas berhasil pulih secara signifikan setelah menyentuh titik terendah pada Juli. Para analis memperkirakan potensi penguatan harga dalam jangka panjang masih terbuka cukup lebar.
Namun, pergerakan emas masih diintai sejumlah penahan laju penguatan di pasar spot. Kenaikan harga minyak mentah berisiko memicu tekanan inflasi AS, sehingga memberikan peluang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan kebijakan ketat. Kepala Strategi Komoditas di TD Securities, Bart Melek, memaparkan pandangannya terkait faktor penahan sentimen pasar.
Risik kenaikan suku bunga acuan jangka pendek dipandang perlu diwaspadai pelaku pasar. "Kekhawatiran mengenai penurunan nilai mata uang AS (USD) semestinya memberikan dukungan kuat bagi harga emas dalam beberapa minggu mendatang, mengingat The Fed belum memberikan sinyal yang jelas bahwa mereka siap memerangi lonjakan inflasi," kata Bart Melek.
Ia menambahkan bahwa lonjakan menuju target tertinggi masih membutuhkan waktu serta konfirmasi data ekonomi lanjutan. Tekanan pasar energi menjadi salah satu variabel kunci penentu arah kebijakan moneter.
"Namun, masih terlalu dini bagi harga emas untuk melonjak hingga mencapai target kami di level US$ 5.350 per troy ounce, mengingat adanya risiko kenaikan suku bunga dalam jangka pendek seiring dengan tren kenaikan harga minyak mentah," ujar Bart Melek.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow