Harga Bitcoin Melonjak Mendekati 80.000 Dolar AS Pasca Kebijakan Obligasi
Pasar aset kripto mengalami penguatan signifikan dengan harga Bitcoin mendekati level 80.000 dolar AS pada penutupan perdagangan di New York, Senin (24/8/2026), sebagaimana dilansir dari Investor Daily. Lonjakan mingguan hingga 23 persen tersebut menjadi kenaikan tertinggi sejak Maret 2023.
Penguatan pasar terdorong oleh langkah Kementerian Keuangan Amerika Serikat yang merencanakan penggandaan nilai pembelian kembali obligasi jangka panjang. Keputusan ini menekan imbal hasil obligasi tenor panjang serta meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko.
"Penyebab utamanya adalah keputusan Kementerian Keuangan AS yang melipatgandakan buyback obligasi jangka panjang. Hal ini menekan imbal hasil (yield) jangka panjang dan mengerek selera risiko pasar secara luas," ujar Rachael Lucas, Analis dari BTC Markets.
Gairah pasar kripto turut dipicu oleh pertemuan langsung Presiden AS Donald Trump dengan sejumlah pemimpin industri aset digital pada hari yang sama.
"Tidak ada yang mengubah prospek jangka panjang Bitcoin, tetapi tidak ada pula yang mengubah sifat volatilitasnya," kata Rachael Lucas.
Selain sentimen makroekonomi, peningkatan harga dipengaruhi oleh aksi short squeeze besar-besaran. Berdasarkan data Coinglass, terjadi likuidasi posisi bearish senilai 2,5 miliar dolar AS pada Bitcoin dan total 4,5 miliar dolar AS di seluruh pasar kripto dalam tiga hari terakhir.
Di sisi lain, harga emas turut merangkak naik ke posisi tertinggi sejak Mei 2026 akibat kekhawatiran depresiasi nilai tukar dolar AS atas intervensi pasar obligasi.
Menurut laporan Reuters, Pendiri Bridgewater Associates Ray Dalio menyarankan investor melakukan diversifikasi portofolio dengan mengurangi porsi obligasi serta mengalokasikan 10 hingga 15 persen ke emas dan sedikit Bitcoin guna menekan risiko investasi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow