Harga Bitcoin Melemah ke US$ 64.000 Akibat Lonjakan Imbal Hasil Obligasi AS 25 Juli 2026

Smallest Font
Largest Font

Harga Bitcoin (BTC) bertahan di kisaran US$ 64.000 pada perdagangan Sabtu, 25 Juli 2026 pagi. Kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) memicu pelemahan ini karena memperkuat ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi The Fed.

Kondisi tersebut menekan minat investor terhadap aset berisiko, sebagaimana dilansir dari Investor Daily. Data CoinMarketCap pukul 07.45 WIB mencatat kapitalisasi pasar kripto global jatuh 0,85% menjadi US$ 2,19 triliun dalam 24 jam terakhir.

Harga Bitcoin anjlok 1,13% ke level US$ 64.050,7 per koin atau sekitar Rp 1,14 miliar berdasarkan kurs Rp 17.922 per dolar AS. Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar juga terpangkas 1,25%.

Aset kripto lainnya turut mengalami penurunan harga. Ethereum melemah 0,54% ke posisi US$ 1.855, sedangkan Binance (BNB) turun 0,41% ke level US$ 564 pada periode yang sama.

Lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS menimbulkan kekhawatiran pasar bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Bitcoin melemah lebih dari 1,6% segera setelah pembukaan pasar saham Wall Street.

Tekanan terhadap pasar kripto makin berat akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi tersebut mendorong para investor untuk mengurangi porsi kepemilikan aset berisiko.

Perusahaan investasi Mosaic Asset Company menyebut kenaikan yield obligasi pemerintah AS sebagai pemicu utama koreksi pasar. Lonjakan terjadi meski data Consumer Price Index (CPI) AS terbaru menunjukkan angka yang lebih rendah dari perkiraan.

Perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada obligasi pemerintah AS tenor dua tahun. Imbal hasilnya berada di kisaran 4,31%, melebih kisaran target suku bunga acuan The Fed.

Kondisi ini mempersempit ruang penurunan suku bunga sekaligus membuka peluang kenaikan kembali. Data CME FedWatch Tool menunjukkan pasar memprediksi The Fed tetap mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan.

Namun, pelaku pasar mulai mengantisipasi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September. Langkah tersebut merupakan bagian dari perkiraan dua kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun 2026.

Menurut analisis Mosaic Asset Company, perubahan ekspektasi ini menekan pasar kripto sekaligus indeks saham global. Di sisi lain, sejumlah analis teknikal menilai level US$ 64.000 menjadi area krusial bagi pergerakan Bitcoin selanjutnya.

Trader kripto Killa melihat pola pergerakan Bitcoin mirip dengan kondisi awal Juni. Ia menyoroti fenomena lapisan antrean beli besar (bid liquidity) di bawah harga pasar pada bursa Binance yang bertindak meredam penurunan.

Analis Wealthmanager memperingatkan potensi perubahan struktur tren jangka pendek menjadi negatif jika Bitcoin menembus ke bawah US$ 64.000. Sementara itu, analis Rekt Capital menilai pergerakan Bitcoin masih menyerupai pola pasar bearish 2022.

Bitcoin kembali gagal menembus exponential moving average (EMA) 50 bulan di level US$ 65.950. Belum terlihat sinyal teknikal yang mengonfirmasi Bitcoin keluar dari pola pelemahan sehingga potensi koreksi lanjutan tetap perlu diwaspadai.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed