Eskalasi Perang Iran Memicu Krisis Ekonomi Petani Amerika Serikat

Smallest Font
Largest Font

Sektor pertanian Amerika Serikat terjerumus ke dalam krisis keuangan terburuk dalam empat dekade akibat lonjakan harga bahan bakar dan pupuk usai perang dengan Iran meletus, sebagaimana dilaporkan Russia Today pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Tekanan ekonomi memuncak setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026 memicu pemblokiran Selat Hormuz yang melayani seperlima pasokan energi dunia. Data Badan Informasi Energi AS mencatat rata-rata harga solar nasional melonjak menjadi US$ 5,45 (Rp 96.465) per galon dari sebelumnya US$ 3,81 (Rp 67.437).

Seorang petani jagung dan kedelai di Nebraska mengeluhkan kenaikan tajam pada biaya operasional pertaniannya.

"Bahan baku sangat tidak masuk akal," papar Matt Bailey, Petani Jagung dan Kedelai Nebraska.

Ia menyebutkan harga pupuk kaya fosfor kini menembus lebih dari US$ 900 (Rp 15,93 juta) per ton dari sebelumnya sekitar US$ 470 (Rp 8,31 juta) pada satu dekade lalu.

"Perang Iran telah membuat begitu banyak ketidakpastian bagi kami para petani. Diproyeksikan bahwa petani tidak akan menghasilkan uang selama dua tahun ke depan," ungkap Pam Johnson, Mantan Presiden Asosiasi Penanam Jagung Nasional.

Presiden Serikat Petani Nebraska John Hansen turut menggambarkan kemerosotan ini sebagai yang terburuk di sektor pertanian sejak era 1980-an. Federasi Biro Pertanian Amerika memprediksi penanam sembilan tanaman utama berpotensi rugi US$ 31 miliar (Rp 548,7 triliun) tahun ini tanpa bantuan federal. Selain itu, hambatan ekspor kedelai ke China dan cuaca panas ekstrim semakin memperparah kondisi Sabuk Jagung.

Dampak perang ini memicu penolakan keras dari kalangan legislator di Senat Amerika Serikat. Senator Partai Demokrat dari Komite Ekonomi Gabungan Kongres menyoroti keuntungan aset energi Presiden Donald Trump di tengah penurunan harga minyak mentah Brent menjadi US$ 86,80 per barel.

"Jelas sekali, kita memiliki seorang presiden yang meraup keuntungan dari perang ilegal yang ia mulai, bersama dengan Perdana Menteri Israel Netanyahu," ujar Chris Van Hollen, Senator AS dari Partai Demokrat.

Ia menambahkan bahwa Trump mengantongi keuntungan besar dari konflik tersebut.

"Dia meraup keuntungan besar dari perang yang tidak masuk akal," kata Chris Van Hollen, Senator AS dari Partai Demokrat.

Peringatan senada disampaikan oleh pimpinan Senat lainnya yang menekankan ancaman perang terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan nasional.

"Setiap hari perang Iran berlanjut, pasukan militer kita menghadapi risiko yang semakin besar, harga-harga di Amerika meningkat, dan kesiapan keamanan nasional kita menurun," tulis Mark Warner, Wakil Ketua Komite Intelijen Senat AS.

Ia juga mempertanyakan kebijakan presiden dalam melanjutkan operasi militer tersebut.

"Kapan Donald Trump akan menghentikan perang yang bencana dan mematikan ini?" tulis Mark Warner, Wakil Ketua Komite Intelijen Senat AS.

Kritik dari Senat AS terus berlanjut seiring memburuknya daya beli masyarakat akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

"Perang tidak masuk akal Trump di Iran telah mempersempit kemampuan masyarakat Amerika memenuhi kebutuhan hidup," kata Chuck Schumer, Pemimpin Partai Demokrat di Senat AS.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed