Elon Musk Soroti Upaya Singapura Atasi Krisis Tingkat Kelahiran

Smallest Font
Largest Font

Elon Musk kembali mengomentari tingkat fertilitas yang sangat rendah di Singapura, menyusul langkah-langkah pemerintah untuk mengatasi krisis kelahiran yang terjadi di negara tersebut.

Pada acara National Day Rally (NDR) 2026, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong mengumumkan sejumlah kebijakan baru, termasuk bantuan keuangan langsung sebesar SGD 70.000 atau sekitar Rp 975 juta untuk setiap anak sejak lahir hingga usia 17 tahun, penambahan cuti pengasuhan anak, dan kesempatan lebih besar memperoleh unit apartemen Build-to-Order (BTO).

Pengguna X bernama XFreeze menyatakan bahwa Singapura sedang mengerahkan seluruh upaya untuk mengatasi penurunan tingkat kelahiran yang tidak hanya menurun biasa, tetapi sudah pada titik di mana negara tidak mampu mempertahankan jumlah populasi.

"Singapura benar-benar mengerahkan segala upaya untuk mengatasi masalah tingkat kelahiran," tulis XFreeze.

"Itu bukan sekadar penurunan biasa. Itu adalah kondisi di mana sebuah negara sama sekali tidak mampu mempertahankan jumlah populasinya. Ini merupakan masalah besar bagi negara tersebut," tambahnya.

Elon Musk mengunggah ulang tweet tersebut dengan komentar, "Manusia sedang menghilang," yang mendapat perhatian luas dengan lebih dari 7,5 juta kali dilihat dan 20.000 likes.

Sebelumnya pada Desember 2024, Musk sudah memperingatkan bahwa Singapura dan beberapa negara lain menghadapi risiko kepunahan akibat rendahnya angka kelahiran, menyusutnya tenaga kerja, dan penuaan populasi.

Musk yang memiliki 14 anak dari empat wanita menilai memiliki anak adalah cara untuk mewariskan hal positif bagi masa depan.

Tanggapan warganet terhadap pernyataan Musk beragam. Sebagian menyatakan banyak pasangan yang tidak memiliki dana atau waktu cukup untuk memiliki anak.

Namun, ada juga yang sependapat dengan Musk namun mempertanyakan apakah produksi robot secara masif justru memperparah masalah demografis.

Faktor biaya perumahan juga menjadi sorotan utama dalam penurunan angka kelahiran. Seorang warganet berpendapat, "Satu-satunya masalah di sini adalah biaya perumahan. Saat biaya perumahan naik, angka kelahiran pun turun."

Warganet lain menambahkan, "Peradaban tidak runtuh karena kehabisan penduduk. Peradaban mulai runtuh ketika memiliki anak menjadi tindakan yang tidak rasional secara ekonomi."

Berita ini dilansir dari Detik iNET dan AsiaOne.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed