Dua Hujan Meteor Capai Puncak Bersamaan di Langit Indonesia

Smallest Font
Largest Font

Dua hujan meteor periodik, Southern Delta Aquariids dan Alpha Capricornids, mencapai puncaknya secara bersamaan pada malam 30 hingga 31 Juli 2026 dan dapat disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia.

Kedua fenomena ini berasal dari jejak puing komet yang dilintasi Bumi. Southern Delta Aquariids berlangsung sejak 12 Juli hingga 23 Agustus dengan intensitas maksimum 25 meteor per jam, sementara Alpha Capricornids aktif dari 7 Juli hingga 15 Agustus dengan puncak 5 meteor per jam, menurut Marufin Sudibyo, astronom amatir.

Meski cahaya Bulan pasca purnama membuat langit lebih terang sehingga jumlah meteor yang tampak berkurang, pengamatan masih memungkinkan dari tengah malam hingga menjelang fajar dengan pandangan mengarah ke rasi Aquarius dan Capricornus.

"Pada tengah malam, meteor dari kedua hujan meteor ini dapat disaksikan sebagai kilatan cahaya yang bergerak ke arah barat, utara, atau selatan," ujar Marufin Sudibyo.

Marufin menambahkan, lokasi pengamatan sangat menentukan keberhasilan menyaksikan meteor. "Jakarta dan wilayah Jabodetabek tidak memungkinkan pengamatan karena polusi cahaya yang tinggi," katanya.

Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, menegaskan posisi Indonesia sangat strategis untuk fenomena ini. "Dua hujan meteor ini mencapai puncaknya secara bersamaan pada akhir Juli. Indonesia berada pada posisi pengamatan yang sangat strategis," ujar Thomas.

Thomas menjelaskan karakteristik kedua hujan meteor berbeda. Southern Delta Aquariids menawarkan intensitas sekitar 20-25 meteor per jam, sedangkan Alpha Capricornids menghasilkan sekitar 5 meteor per jam dengan bola api yang lebih terang dan gerak lebih lambat.

Untuk pengamatan optimal, Thomas menyarankan memilih lokasi gelap bebas polusi cahaya seperti kawasan perbukitan dan pesisir di NTB, serta menghindari alat bantu optik. "Mata telanjang memberi sudut pandang lebih luas untuk menangkap kilatan meteor," katanya.

Marufin juga mengingatkan pentingnya adaptasi mata dengan kegelapan selama 15-30 menit dan menghindari sumber cahaya putih agar penglihatan lebih sensitif terhadap meteor redup. "Jika perlu, gunakan senter yang dibungkus kertas minyak merah," ujarnya.

Fenomena hujan meteor ini berasal dari material sisa komet 96P/Machholz untuk Southern Delta Aquariids dan komet 169P/NEAT untuk Alpha Capricornids. Kedua komet ini meninggalkan puing-puing yang memasuki atmosfer Bumi dan terbakar, menghasilkan kilatan cahaya meteor yang dapat diamati.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed