Dolar AS Anjlok Usai The Fed Tahan Suku Bunga Acuan
Mata uang dolar AS mengalami penurunan harian terutamanya dalam dua minggu terakhir pada Rabu (29/7/2026) setelah Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, memutuskan untuk menahan suku bunga acuan.
Bloomberg Dollar Spot Index merosot sekitar 0,3% setelah pengumuman kebijakan tersebut. Penurunan ini mencatatkan rekor penurunan terbesar bagi indikator dolar tersebut dalam dua tahun terakhir setelah keputusan The Fed menjaga suku bunga tetap stabil.
Pelemahan greenback semakin meluas ketika Ketua The Fed Kevin Warsh memberikan pernyataan dalam konferensi pers. Ia mengindikasikan bahwa para pejabat mengamati lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 30 tahun yang melesat ke level tertinggi sejak 2007.
Pengamat pasar menilai kenaikan yield obligasi tersebut mengambil alih sebagian tugas pengetatan dari bank sentral.
"Warsh secara tersirat menyebutkan kenaikan imbal hasil Treasury sejak pertemuan terakhir sebagai pengganti kenaikan suku bunga, yang kemungkinan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga di pasar dan menekan mata uang dolar," ujar Yusuke Miyairi, ahli strategi mata uang di Nomura, London.
Sebelum pertemuan berlangsung, para pedagang memperhitungkan peluang satu banding tiga untuk kenaikan suku bunga di tengah lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah. Pasca keputusan, probabilitas kenaikan pada September bergeser menjadi sedikit di atas 50%, sementara kenaikan pada Desember belum sepenuhnya diperhitungkan.
Meskipun tiga pejabat The Fed menyatakan beda pendapat dan memilih untuk menaikkan suku bunga, indikator dolar Bloomberg secara umum masih naik lebih dari 2% sejak perang pecah di Timur Tengah akibat ketangguhan ekonomi AS.
Di sisi lain, dolar melemah terhadap sebagian besar mata uang utama dunia pada Rabu. Krone Norwegia melonjak sekitar 0,8% yang turut didorong oleh kenaikan harga minyak dunia.
"Sebelumnya kita melihat ada probabilitas sekitar 30% bahwa kita akan mendapatkan kenaikan 25 basis poin dan itu tidak terjadi — hal itu saja kemungkinan sudah cukup untuk memicu pergerakan setengah persen pada dolar," kata Nathan Thooft, manajer portofolio senior di Manulife Investment Management.
Pasar kini terus memantau arah kebijakan moneter AS selanjutnya di tengah dinamika geopolitik global.
"Dalam jangka panjang, kami terus percaya bahwa dolar AS kemungkinan telah mencapai puncaknya pada siklus ini, namun jalur pergerakan ke depannya kemungkinan tidak akan terjadi secara drastis," kata Nathan Thooft, manajer portofolio senior di Manulife Investment Management.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow