Mata Uang Asia Melemah Tertekan Penguatan Dolar AS pada 1 September 2026
Mayoritas mata uang Asia mengalami pelemahan pada perdagangan Selasa pagi, 1 September 2026, akibat penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang kembali menguat. Tekanan ini terjadi di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Data Refinitiv mencatat, dari sembilan mata uang Asia utama, tujuh melemah terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan tekanan terdalam, melemah 0,30% ke MYR 4,034/US$. Won Korea Selatan turun 0,24% ke KRW 1.370,39/US$, sementara rupiah melemah 0,06% ke Rp17.720/US$.
Dolar Taiwan menjadi satu-satunya mata uang yang menguat signifikan, naik 0,25% ke TWD 31,613/US$, diikuti peso Filipina yang naik 0,12% ke PHP 62,290/US$. Indeks dolar AS (DXY) pada waktu yang sama terpantau naik 0,08% ke posisi 99,503.
Penguatan dolar AS ini dipicu oleh komentar Ketua The Fed Kevin Warsh yang disampaikan di simposium Jackson Hole. Warsh menyatakan The Fed masih harus bekerja jika inflasi belum bergerak turun menuju target 2%, yang menimbulkan ekspektasi kenaikan suku bunga kembali meningkat.
"Pernyataan tertulis Warsh tampaknya dirancang untuk menaikkan ekspektasi kenaikan suku bunga, menggeser perdebatan September ke arah kubu hawkish, dan membangun kembali kredibilitasnya dalam melawan inflasi," ujar Elwin de Groot, kepala strategi makro Rabobank.
Selain itu, pasar juga menunggu data ketenagakerjaan AS bulan Agustus yang dijadwalkan rilis Jumat, yang diperkirakan menunjukkan penambahan 55.000 pekerjaan. Data ini dipandang krusial sebelum rapat The Fed pada 15-16 September.
"Jika kita mendapatkan penurunan pekerjaan secara langsung, saya tidak melihat bagaimana The Fed dapat menaikkan suku bunga. Saya rasa mereka tidak pernah menaikkan suku bunga setelah ekonomi mengalami kehilangan pekerjaan dua kali berturut-turut," kata Marc Chandler, kepala strategi pasar Bannockburn Global Forex.
Tekanan pada mata uang Asia juga datang dari kenaikan imbal hasil obligasi global, kekhawatiran fiskal, dan harga minyak yang menguat, yang membuat pasar lebih berhati-hati.
Pergerakan mata uang Asia yang beragam terjadi sejak akhir pekan lalu. Pada Senin, 31 Agustus 2026, ringgit Malaysia dan yen Jepang justru menguat terhadap dolar AS, sementara rupiah menjadi yang paling melemah di kawasan dengan penurunan 0,34% ke Rp17.745/US$.
Penguatan dolar pada Jumat sebelumnya dipicu oleh pidato hawkish Kevin Warsh di Jackson Hole yang memicu pasar untuk kembali memperhitungkan kenaikan suku bunga The Fed setidaknya 25 basis poin pada rapat September. Peluang tersebut meningkat dari sekitar 35% menjadi 57,5% setelah pidato tersebut.
"Jika The Fed tidak menindaklanjutinya lagi, saya tidak ingin terlalu dramatis dengan mengatakan kredibilitasnya terkikis, tetapi menurut saya cara yang lebih tepat adalah pasar akan melihat komentarnya ke depan dengan sangat hati-hati," ujar Eugene Epstein, kepala perdagangan dan produk terstruktur Moneycorp.
Sebelumnya, pada 27 Agustus 2026, rupiah juga tercatat sebagai mata uang Asia dengan pelemahan terdalam sebesar 0,45% ke Rp17.775/US$. Sementara itu, won Korea Selatan menjadi yang paling menguat 0,44% ke KRW 1.378,77/US$.
Data inflasi AS yang dirilis sebelumnya menunjukkan kenaikan PCE sebesar 3,7% secara tahunan pada Juli, sedikit lebih tinggi dari perkiraan, yang menjaga ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun tetap hidup.
Ryan Wells, ekonom Westpac, menyatakan,"Pembacaan inflasi menjaga ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun tetap hidup, meski pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole akan menjadi ujian utama."
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow