Desainer Indonesia dan Prancis Kolaborasi Buat Busana di JF3 2026
BRI JF3 Fashion Festival 2026 di Summarecon Mal Kelapa Gading, Jakarta, menjadi ajang pameran karya kolaborasi lintas negara antara desainer Indonesia dan Prancis. Program busana ini diluncurkan melalui jalur PINTU Residency dari PINTU Incubator, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Sabtu (8/8/2026).
Co-Initiator PINTU Incubator dan Founder LAKON Indonesia, Thresia Mareta, memberikan penjelasannya terkait komitmen inkubasi karya tekstil tersebut.
"Memasuki tahun kelima, PINTU Incubator terus memperkuat kolaborasi mode Indonesia–Prancis melalui pengembangan talenta, pertukaran pengetahuan, kolaborasi kreatif, dan pengalaman lintas budaya. Pada 2026, perjalanan tersebut diwujudkan melalui kolaborasi antara brand Indonesia dan Prancis, partisipasi Lil Public dalam pertunjukan tahunan École Duperré di Paris pada awal Juli, serta dua koleksi hasil PINTU Residency yang dikembangkan melalui proses riset dan kolaborasi bersama komunitas artisan di Lombok dan Mojokerto," kata Thresia Mareta, Co-Initiator PINTU Incubator dan Founder LAKON Indonesia.
Ia menuturkan bahwa aspek keberlanjutan lingkungan juga menjadi poin penting dalam pengembangan proyek tekstil lokal ini.
"Keberlanjutan menjadi inti dari proyek ini melalui kolaborasi eratnya dengan para perajin lokal dan pelestarian teknik tenun tradisional. Koleksi ini mendukung kerajinan tangan Indonesia dengan mengembangkan tekstil eksklusif yang ditenun dengan tangan di Lombok menggunakan pewarna alami, mendorong pewarisan pengetahuan leluhur sekaligus menciptakan peluang baru bagi komunitas perajin," kata Thresia Mareta, Co-Initiator PINTU Incubator dan Founder LAKON Indonesia.
Salah satu hasil kreasi dalam pameran tersebut adalah rancangan outer bermotif ornamen Lombok berdasar kain cokelat bertema Garuda karya Michael Nana dari Prancis dan Beatrice Angelica asal Indonesia. Desain tersebut terinspirasi dari lambang negara Garuda yang menggambarkan keterbukaan dan kekuatan identitas kreatif bersama.
"Koleksi ini mengeksplorasi perpaduan antara warisan tekstil Indonesia dan penjahitan Barat dari tahun 1970-an dan 1980-an yang memberikan struktur arsitektural pada pakaian," kata Michael Nana, desainer asal Senegal yang berkarir di Prancis.
Desainer Indonesia Beatrice Angelica membagikan pengalaman saat bertandang ke Lombok untuk berkolaborasi dengan perajin wanita pembuat tenun dan songket.
"Jadi kita bikin dari sketsa, terus kita pilih benangnya mau warna apa, kita lihat prosesnya dan juga diajarin cara bikin tenunnya. Jadi kita coba juga untuk bikin. Setelah sudah oke sama fabric-nya, kita mulai dari sketching.
Jadi kita bener-bener berdua menggambar, select yang mana yang oke untuk collection ini. Terus kita masuk ke sample production-nya, yaitu bikin sample pakai kain dulu. Kita lihat dulu jatuhnya gimana.
And then, pada hasil akhirnya kita jahit di kain asli," cerita Beatrice Angelica, desainer Indonesia.
Ia memaparkan kendala utama yang dihadapi timnya selama proses produksi berdurasi empat bulan tersebut.
"Karena tenun songket itu lama banget ya bikinnya. Dan kita cuma ada waktu empat bulan dari awal sampai akhir. Jadi bener-bener kayak dikejar waktu untuk produksinya.
Dan karena benang yang kita pilih sendiri itu natural die, jadi dari alam, warna alam. Jadi nggak selalu konsisten warnanya, setiap batch bisa berbeda. Dan juga untuk tenunnya sendiri kan banyak pengerajinnya nih.
Jadi beda tangan bisa beda hasil. Jadi itu yang paling susah untuk bikin koleksi yang kelihatan konsisten," tutur Beatrice Angelica, desainer Indonesia.
Beatrice juga menyoroti proses penyatuan elemen budaya tailoring khas Eropa dengan pakaian tradisional Indonesia.
"Jadi untuk kolaborasi ini ada banyak banget pieces-nya yang tailoring. Kayak jas, celananya yang tailored. Dan itu kayak ada dua-duanya di kultur Indonesia dan juga kultur Prancis.
Jadi misal classic European tailoring itu kan ada identik ciri khasnya sendiri. Dan kita combine dengan hal yang sangat Indonesia. Contohnya jas beskap.
Jadi gimana caranya biar dua-duanya tuh nge-blend seamless," kata Beatrice Angelica, desainer Indonesia.
Karya kolaborasi kedua dinamai 'Au Large' yang dirancang oleh perancang busana Prancis Lisa Rayar bersama Gabriel Marcella asal Semarang. Koleksi ini menampilkan 12 tampilan yang menggabungkan ciri maritim Prancis dan perajin tekstil Indonesia melalui eksplorasi batik Mojokerto, denim, katun, hingga teknik sablon batik inovatif.
Lisa Rayar mengungkapkan kesannya saat pertama kali mengolah kain batik bersama mitra kolaborasinya.
"Sebenarnya, saya menyukai kenyataan bahwa kami sangat berbeda. Kami memiliki budaya yang berbeda dan pandangan yang berbeda mengenai mode. Namun, justru di situlah letak daya tariknya untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Hal ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi saya, karena saya belum pernah membuat koleksi hasil kolaborasi dengan desainer lain sebelumnya. Jadi, ini adalah pengalaman yang cukup baru. Begitu pula dengan penggunaan batik, itu benar-benar hal baru bagi saya.
Saya sangat menyukainya," kata Lisa Rayar, desainer asal Prancis.
Desainer asal Semarang, Gabriel Marcella, memaparkan bagaimana ia merancang motif batik Mojokerto kotak-kotak bergaris gaya Prancis.
"Enjoy banget bisa explore dan bikin batik motif sendiri, yang sesuai dengan tema dan dengan apa yang kita suka gitu. Motif batiknya lebih kotak-kotak dan garis-garis French," kata Gabriel Marcella, desainer Indonesia.
Gabriel menambahkan filosofi di balik pemilihan warna hijau dan biru pada rancangan motif tekstil tersebut.
"Filosofinya sedekah laut, melarung di laut. Untuk pemilihan warnanya juga lebih ke hijau dan biru, warna laut," ungkap Gabriel Marcella, desainer Indonesia.
Pemanfaatan sisa bahan tekstil juga dilakukan untuk mendukung gerakan eco-fashion agar tidak ada limbah kain terbuang.
"Ini sisa kain batik aku jadikan gantungan, bisa untuk gantungan kunci atau untuk dikaitkan di tas," kata Gabriel Marcella, desainer Indonesia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow