Prancis dan Indonesia Perkuat Kerja Sama Industri Mode di Jakarta

Smallest Font
Largest Font

Prancis dan Indonesia terus memperkuat kemitraan strategis di sektor mode melalui penyelenggaraan dialog profesional bertajuk Indonesian-French Seminar on Fashion and Craftsmanship: Rethinking the Fashion of Tomorrow di Jakarta, seperti dilansir dari Investor Daily.

Diskusi tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari program PINTU Fashion Incubator, sebuah inisiatif kolaborasi yang digagas oleh Kedutaan Besar Prancis-IFI, LAKON Indonesia, serta JF3 Fashion Festival.

Pendiri LAKON Indonesia sekaligus penasihat JF3, Thresia Mareta, menekankan pentingnya riset pasar agar produsen dapat menggantikan produk fast fashion dengan karya bernilai lebih tinggi secara bertahap.

"Menjawab pertanyaan tentang bagaimana sebuah merek bisa bertahan, menurut saya kita perlu lebih banyak melakukan riset, terutama riset pasar. Dengan memahami pasar, kita bisa menghasilkan produk yang benar-benar tepat sasaran. Kita tidak perlu memproduksi terlalu banyak. Kita memahami kebutuhan pasar, merencanakan produksi dengan baik, dan secara bertahap kita akan mampu menggantikan produk fast fashion dengan produk yang memiliki nilai lebih tinggi," kata Thresia Mareta, Pendiri LAKON Indonesia.

Penguatan kerja sama ini berfokus pada strategi menjaga keberlanjutan merek mode serta penyesuaian jumlah produksi agar selaras dengan kapasitas ekonomi dan keterampilan para perajin.

"Pertanyaan besarnya adalah: berapa jumlah produksi yang dianggap cukup untuk memenuhi permintaan, sesuai dengan tingkat ekonomi dan tingkat keterampilan para perajin yang menjadi pemasoknya?" ujar Thresia Mareta, Pendiri LAKON Indonesia.

Thresia menyoroti pengalaman delapan tahun LAKON Indonesia dalam memberikan edukasi mengenai pentingnya nilai komersial pada setiap hasil karya perajin batik dan tenun.

"Sering kali kita memperlakukan karya perajin atau hasil kriya di semua tingkatan sama seperti karya seni. Padahal kita lupa bahwa ada level atau kategorinya. Ada kategori fine art (seni murni), dan ada kategori wearable art atau karya yang memang dirancang untuk diproduksi secara layak dan dipasarkan," kata Thresia Mareta, Pendiri LAKON Indonesia.

Ia mengibaratkan struktur tersebut seperti piramida dalam sebuah atelier yang menyeimbangkan sisi artistik dan penopang bisnis.

"Jadi intinya adalah kemitraan. Ketika kita datang ke daerah-daerah dan berbicara dengan para perajin, seharusnya kita tidak memperlakukan mereka hanya sebagai vendor. Sampai sekarang di Indonesia, produsen dari daerah atau kota-kota kecil masih sering diposisikan hanya sebagai pemasok, bukan mitra," ujar Thresia Mareta, Pendiri LAKON Indonesia.

Pola hubungan yang sekadar memesan pekerjaan dinilai kurang baik bagi pertumbuhan industri jangka panjang karena cenderung bersifat sementara.

"Menurut saya, pola seperti itu belum tentu baik bagi perkembangan industri. Setelah pesanan selesai, hubungan pun berakhir—hanya menjadi kerja sama sesaat, seperti one-hit wonder," kata Thresia Mareta, Pendiri LAKON Indonesia.

Sementara itu, Head of Design dan Co-Director ENAMOMA-PSL dari Prancis, Darja Richter-Widhoff, menjelaskan bahwa keberlanjutan merek membutuhkan batas yang jelas berdasarkan tujuan pembuatan produk.

"Menurut saya, pembeda utamanya adalah tujuan. Apa tujuan kita membuat sebuah produk atau karya mode? Jika tujuannya jelas, lalu seluruh proses dikerjakan selaras dengan tujuan tersebut, maka kita berada di jalur yang benar. Tetapi jika tidak, tentu akan menjadi persoalan," ujar Darja Richter-Widhoff, Head of Design dan Co-Director ENAMOMA-PSL.

Darja mengingatkan pentingnya pembagian manfaat finansial maupun pesan moral kepada para perajin yang terlibat di balik pembuatan karya mode.

"Misalnya, untuk merek saya sendiri, saya berencana pergi ke Kongo atau Kamerun, bertemu para perajin, lalu berkolaborasi dengan mereka. Saya tentu memiliki cerita dan visi saya sendiri, yang mungkin berbeda dari cerita mereka. Ada dua sudut pandang dalam satu karya. Namun, tugas saya adalah memastikan sorotan tetap diberikan kepada keterampilan mereka, dan sebagian dari keuntungan yang saya peroleh juga kembali kepada mereka," kata Darja Richter-Widhoff, Head of Design dan Co-Director ENAMOMA-PSL.

Ia membandingkan fenomena akuisisi rumah kerajinan kecil oleh rumah mode besar di Prancis yang dapat mengurangi kemandirian perajin.

"Saya juga ingin menanggapi hal yang disampaikan sebelumnya. Ada perbedaan antara melindungi sebuah keterampilan tradisional dengan memilikinya. Di Prancis, banyak rumah kerajinan yang sangat kecil.

Mereka memiliki keahlian luar biasa, tetapi sulit bertahan dalam sistem ekonomi yang sangat kompetitif. Rumah-rumah mode besar sering kali membeli atau mengakuisisi mereka. Namun sebenarnya, yang mereka beli bukan sekadar untuk melindungi keterampilan tersebut.

Mereka membeli hak eksklusif, agar selalu menjadi yang terdepan dibandingkan merek lain," ujar Darja Richter-Widhoff, Head of Design dan Co-Director ENAMOMA-PSL.

Darja menambahkan bahwa dalam merancang koleksi, titik keseimbangan antara karya seni bernilai tinggi dan produk berharga terjangkau harus tetap dijaga.

"Menurut saya, inilah cara menemukan titik keseimbangan. Jadi pendekatan Anda adalah memberikan kontribusi yang cukup besar tanpa kehilangan keseimbangan antara nilai seni, kesejahteraan para perajin, dan aspek komersialnya, agar sebuah merek bisa bertahan," kata Darja Richter-Widhoff, Head of Design dan Co-Director ENAMOMA-PSL.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed