Bursa Asia Ambruk Dipicu Aksi Jual Saham Semikonduktor dan Kekhawatiran AI
Aksi jual besar-besaran pada sektor semikonduktor menekan bursa saham Asia hingga merosot tajam pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Penurunan ini dipicu oleh kecemasan investor terhadap besarnya kebutuhan pendanaan modal kecerdasan buatan (AI) serta kewaspadaan jelang keputusan suku bunga Amerika Serikat.
Indeks KOSPI Korea Selatan memimpin pelemahan dengan anjlok lebih dari 8 persen hingga menyentuh level terendah dalam tiga bulan. Kondisi tersebut memaksa Korea Exchange mengaktifkan mekanisme penghentian sementara perdagangan (circuit breaker) selama 20 menit setelah penurunan indeks menembus 8 persen, serta memicu pembatasan perdagangan program sidecar.
Tekanan di bursa Seoul terutama didorong oleh jatuhnya saham-saham cip utama, seperti SK Hynix yang merosot lebih dari 11 persen dan Samsung Electronics yang kehilangan lebih dari 9 persen nilainya. Saham teknologi lain seperti Samsung SDI juga melemah melebihi 8 persen.
Gelombang pelemahan turut menjangkau bursa Jepang, di mana indeks Nikkei terkoreksi 4 persen. Saham produsen memori Kioxia jatuh melampaui 17 persen, sementara Tokyo Electron terperosok hingga 10 persen.
Kepanikan pasar global dipicu oleh penurunan saham Nvidia sebesar 5 persen di Wall Street menyusul laporan Wall Street Journal mengenai potensi jaminan pembiayaan 250 miliar dolar AS untuk proyek pusat data OpenAI. Di sisi lain, lompatan saham produsen cip China, CXMT Corp, sebesar 466 persen pada debutnya di Shanghai memperketat persaingan industri semikonduktor global.
"Jelas terlihat adanya optimisme yang meningkat di pasar domestik China mengenai kemampuan negara itu membangun ekosistem AI yang kompetitif secara global," kata Chris Weston, Head of Research Pepperstone.
Selain itu, muncul laporan dari The Information bahwa China mulai memproduksi mesin litografi immersion deep ultraviolet (DUV) secara mandiri. Kabar perkembangan teknologi independen ini langsung menekan harga saham raksasa litografi Belanda, ASML, sebesar 8,5 persen.
Di luar sektor teknologi, fokus pelaku pasar terbagi pada dinamika harga minyak mentah Brent yang merosot ke level 87,55 dolar AS per barel seiring meredanya ketegangan militer antara AS dan Iran. Penurunan harga energi ini menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke level 4,64 persen.
"Perang AS-Iran, melalui dampaknya terhadap harga minyak mentah, masih menjadi faktor terpenting yang akan menentukan arah ekonomi global dalam beberapa bulan mendatang, sekaligus memengaruhi prospek kebijakan bank sentral," kata Thierry Wizman, ahli strategi mata uang dan suku bunga Macquarie Group.
Penguatan dolar AS terus berlanjut di tengah ekspektasi kebijakan moneter ketat dari The Fed, sementara yen Jepang bertahan di kisaran 163,78 per dolar AS. Para pelaku pasar kini mengantisipasi potensi intervensi mata uang dari pemerintah Jepang jika Bank of Japan kembali mempertahankan suku bunga acuannya pekan ini.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow