BRIN Rekam Puncak Hujan Meteor Perseid dari Observatorium Timau NTT

Smallest Font
Largest Font

Fasilitas All Sky Camera di Observatorium Nasional Timau, Nusa Tenggara Timur, berhasil merekam puncak fenomena hujan meteor Perseid pada malam 12 Agustus hingga 13 Agustus 2026. Masyarakat yang melewatkan momen puncak tersebut masih dapat memantau rekaman dan fenomena astronomi ini hingga 20 Agustus 2026 melalui situs resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Peristiwa tahunan ini terjadi saat planet Bumi melintasi gugusan debu sisa peninggalan Komet Swift-Tuttle atau Komet 109P/Swift-Tuttle. Ketika partikel komet masuk ke atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, debu tersebut terbakar dan berpijar hingga menghasilkan kilatan cahaya di langit.

Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, memberikan penjelasan detail mengenai proses terjadinya fenomena alam tersebut saat dihubungi media pada Jumat, 14 Agustus 2026.

"Hujan meteor itu terjadi karena pertemuan Bumi dengan gugusan debu Komet Swift-Tuttle. Akibatnya, debu-debu yang masuk atmosfer terbakar pada ketinggian sekitar 70–90 kilometer. Debu yang terbakar itulah yang tampak sebagai meteor," kata Thomas Djamaluddin, Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN.

Fenomena ini dinamai Perseid karena secara visual titik pancarnya tampak berasal dari arah rasi Perseus di langit timur laut. Meskipun puncaknya telah berlalu, aktivitas hujan meteor ini membentang dalam rentang waktu yang lumayan panjang, yakni mulai 23 Juli sampai 20 Agustus.

Masyarakat umum diperbolehkan mengakses platform digital yang disediakan oleh lembaga riset negara tersebut untuk menyaksikan tayangan ulang hasil pemantauan kamera pengawas langit di NTT.

"Silakan pantau sampai 20 Agustus di situs ASC Obsnas Timau," kata Thomas Djamaluddin, Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN.

American Meteor Society mencatat bahwa kondisi pengamatan pada tahun 2026 sangat menguntungkan lantaran bertepatan dengan fase Bulan baru. Langit yang gelap tanpa gangguan cahaya Bulan memudahkan pengamatan meteor-meteor yang redup secara langsung tanpa memerlukan bantuan teleskop.

Kendati demikian, pengamat di belahan Bumi selatan seperti Indonesia memiliki posisi radiant yang lebih rendah dibandingkan wilayah utara. Hasil pengamatan secara langsung di lapangan akan sangat bergantung pada faktor tutupan awan, tingkat polusi cahaya, serta kondisi cuaca setempat.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed