BPS Proyeksikan Produksi Beras Nasional Turun Jadi 3141 Juta Ton

Smallest Font
Largest Font

Badan Pusat Statistik memproyeksikan produksi beras nasional periode Januari hingga Oktober 2026 mencapai 31,41 juta ton. Total produksi tersebut mengalami penurunan sebesar 0,08 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono menyampaikan bahwa berdasarkan pengamatan Kerangka Sampel Area pada Juli 2026, sekitar 36,27 persen lahan pertanian nasional berada dalam fase ditanami padi. Mayoritas tanaman berada pada fase generatif sebesar 15,78 persen yang berpotensi dipanen pada Agustus 2026.

Luas panen padi pada Juli 2026 tercatat mencapai 0,93 juta hektare, turun 1,05 persen dibandingkan Juli 2025. Adapun potensi luas panen periode Agustus hingga Oktober 2026 diperkirakan sebesar 3,07 juta hektare, sehingga akumulasi luas panen Januari sampai Oktober 2026 diproyeksikan mencapai 10,31 juta hektare.

"Pada kondisi Juli tahun 2026 luas panen padi mencapai 0,93 juta hektare (ha) atau mengalami penurunan 1,05% dibandingkan dengan Juli tahun 2025 yang besarnya 0,94 juta hektar," ujar Ateng dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (1/8/2026).

Sejalan dengan penurunan luas panen harian, produksi padi pada Juli 2026 diperkirakan sebesar 4,75 juta ton gabah kering giling atau turun 1 persen dari Juli 2025. Secara akumulatif hingga Oktober 2026, produksi padi diproyeksikan menyentuh 54,52 juta ton gabah kering giling, berkurang 0,05 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan volume produksi padi secara langsung berdampak pada estimasi hasil beras untuk konsumsi masyarakat yang pada Juli 2026 mencapai 2,74 juta ton, merosot 0,99 persen dari pencapaian tahun sebelumnya.

"Sepanjang Januari-Oktober tahun 2026, produksi beras diperkirakan mencapai 31,4 juta ton atau mengalami penurunan sebesar 0,03 juta ton atau menurun 0,08% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025," beber Ateng.

Ateng menegaskan bahwa estimasi angka potensi produksi ini masih bersifat dinamis. Perkembangan produksi sangat bergantung pada gangguan hama, risiko banjir, ancaman kekeringan, hingga pergeseran jadwal panen oleh petani.

Sebaran potensi panen padi periode Agustus hingga Oktober 2026 utamanya masih terkonsentrasi di Pulau Jawa seperti Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Lokasi panen lainnya tersebar di wilayah Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Lampung, Aceh, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Selatan, serta Nusa Tenggara Barat.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed