BPS Catat Inflasi Agustus 2026 Sebesar 0 21 Persen

Smallest Font
Largest Font

Badan Pusat Statistik melaporkan laju inflasi bulanan Indonesia mencapai 0,21 persen pada Agustus 2026, seperti dilansir dari Investor Daily. Capaian tersebut mendorong tingkat inflasi tahunan berada di level 3,19 persen dan inflasi tahun kalender sebesar 1,86 persen.

Tekanan harga dari sisi penawaran diperkirakan masih berlanjut hingga tingkat konsumen. Kondisi ini berpotensi menahan laju inflasi akhir tahun di atas sasaran target pemerintah yang berada pada kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen.

"Dengan asumsi pemerintah mempertahankan harga energi bersubsidi pada level saat ini, kami memperkirakan inflasi tahunan akan mencapai sekitar 3,13% pada akhir 2026, dibandingkan dengan 2,92% pada 2025," ujar Faisal Rachman, Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata pada Selasa (1/9/2026).

Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah dapat menjadi pemicu lonjakan harga energi global yang berisiko menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Jika skenario tersebut terjadi, pemerintah berpeluang menyesuaikan harga bahan bakar bersubsidi yang berlanjut pada penyesuaian suku bunga acuan Bank Indonesia.

Faktor dalam negeri seperti peningkatan jumlah uang beredar serta lonjakan permintaan bahan pangan dari Program Makan Bergizi Gratis turut membayangi risiko inflasi pangan gejolak. Kerentanan sektor pertanian akibat ancaman iklim juga menjadi aspek kritis yang perlu diwaspadai.

"Selain itu, potensi terjadinya El Niño Godzilla perlu dipantau secara ketat karena dapat mengganggu produksi pertanian, meningkatkan harga pangan, dan memperkuat tekanan inflasi," ucap Faisal.

Di lain sisi, tingginya ketidakpastian kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat memicu pelemahan nilai tukar rupiah dan membatasi aliran modal masuk. Kondisi ini berisiko memperbesar biaya impor bahan baku bagi industri manufaktur nasional.

"Hal ini sudah tercermin dalam inflasi dari sisi penawaran yang telah melampaui inflasi dari sisi permintaan, menunjukkan meningkatnya risiko bahwa kenaikan biaya produksi, khususnya bahan baku impor, akan diteruskan kepada harga konsumen," kata Faisal.

Meskipun terdapat peluang kenaikan suku bunga lanjutan jika dinamika pasar memburuk, proyeksi dasar menunjukkan suku bunga acuan BI-Rate akan dipertahankan pada tingkat 5,75 persen.

"Kami menilai kenaikan suku bunga terakhir sudah memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan The Fed pada kuartal IV 2026," terang Faisal.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed