BMKG Deteksi Bibit Siklon 95W dan Minta Wilayah Ini Waspada Hujan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi cuaca di mayoritas wilayah Indonesia didominasi cuaca cerah berawan hingga berawan tebal pada Kamis (20/8/2026). Meski demikian, potensi hujan sedang hingga lebat tetap perlu diwaspadai di sejumlah daerah akibat dinamika atmosfer dan kemunculan bibit siklon tropis.
BMKG mendeteksi keberadaan bibit siklon tropis 95W di pesisir timur Pulau Hainan, China. Sistem ini bertekanan sekitar 999 hektopaskal dengan kecepatan angin maksimum 25 knot yang bergerak ke arah barat laut, serta memicu daerah konvergensi dan konfluensi pembentuk awan hujan.
Prakirawan BMKG Nazmi Nariyah menyampaikan rincian kondisi cuaca wilayah Indonesia dalam siaran persnya.
"Sementara itu, hujan ringan berpotensi mengguyur Bengkulu, Serang, Bandung, dan Tanjung Selor," ujar Prakirawan BMKG Nazmi Nariyah.
Di kawasan Indonesia bagian barat, cuaca cerah berawan hingga berawan tebal terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan Semarang. Wilayah Sumatra Utara, Kalimantan Utara, hingga Papua diprediksi berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Selain itu, fenomena hujan lokal sempat melanda Jakarta Selatan pada Rabu (19/8/2026) siang di tengah periode musim kemarau. Pejabat BMKG memberikan penjelasan terkait pemicu hujan tersebut.
"Melainkan merupakan proses alami atmosfer dan sudah sesuai prediksi yang dikeluarkan sebelumnya oleh BMKG. Kondisi udara yang cukup lembap, adanya pertemuan dan perubahan arah angin, serta interaksi antara massa udara kering dan udara lembap di sekitar Jabodetabek mendukung terbentuknya awan hujan," jelas Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani.
Andri juga memaparkan tren curah hujan di kawasan ibu kota untuk beberapa hari ke depan.
"Dalam 1-2 hari ke depan, potensi hujan diprakirakan berangsur menurun, meskipun hujan ringan masih dapat terjadi secara lokal. Memasuki 22-25 Agustus, cuaca Jakarta kembali didominasi cerah berawan," tambahnya.
BMKG menegaskan bahwa fenomena hujan yang terjadi saat musim kemarau masih bersifat tidak merata di berbagai wilayah.
"Betul (masih akan sporadis). Karena saat ini masih pada periode musim kemarau," ujarnya.
Terkait langkah penanganan cuaca di wilayah perkotaan, BMKG membeberkan rencana pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca.
"Ke depan OMC akan dilakukan secara situasional, menyesuaikan urgensi dan kondisi atmosfer," kata Andri.
Pihak BMKG juga memaparkan kondisi umum ketersediaan curah hujan di Indonesia secara keseluruhan.
"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan hujan secara umum masih terbatas dalam beberapa dasarian ke depan," ungkap BMKG.
Faktor iklim global turutserta mempengaruhi penurunan pasokan uap air di kawasan Indonesia.
"Meskipun demikian, pengaruh kedua fenomena tersebut tidak berlangsung seragam di seluruh wilayah, karena dinamika atmosfer regional dan lokal masih dapat memberikan dukungan terhadap pembentukan awan hujan," tambah BMKG.
BMKG menambahkan bahwa gelombang atmosfer lokal turut membantu pembentukan awan konvektif.
"Aktivitas gelombang tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan awan konvektif, terutama pada wilayah yang didukung oleh konvergensi angin, kelembapan, dan labilitas atmosfer lokal," kata BMKG.
Guna mengantisipasi perubahan cuaca mendadak, masyarakat diimbau untuk terus memantau pembaruan informasi resmi melalui saluran komunikasi BMKG.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow