Grup Barito Bidik Aset Panas Bumi Filipina Senilai Rp90 Triliun
Emiten konglomerasi milik Prajogo Pangestu kembali menarik perhatian pasar keuangan. Dilansir dari Investor Daily, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) tertarik mengakuisisi aset panas bumi di Filipina dengan taksiran nilai mencapai US$5 miliar atau setara Rp90 triliun. Sebagai bagian dari Grup Barito, BREN mengantongi kas dan setara kas akhir periode sebesar US$168,6 juta atau setara Rp3 triliun per 31 Maret 2026.
Perusahaan juga mengantongi kas bersih dari aktivitas pendanaan sebesar US$20,2 juta atau Rp364 miliar pada periode yang sama. Ruang pendanaan eksternal BREN dinilai masih sangat longgar untuk mendukung ekspansi. BREN berpotensi memanfaatkan berbagai instrumen pembiayaan mulai dari obligasi, sukuk, rights issue, private placement, hingga pinjaman pemegang saham.
Langkah ekspansi ini didukung oleh likuiditas kuat dari induk usahanya, PT Barito Pacific Tbk (BRPT). Per Januari 2026, BRPT masih menguasai dana sisa penawaran umum berkelanjutan sebesar Rp1,5 triliun.
Dana tak terpakai tersebut berasal dari sisa obligasi berkelanjutan III Barito Pacific sebesar Rp546,1 biliar. Selain itu, terdapat sisa dana dari obligasi berkelanjutan IV Barito Pacific sebesar Rp977,4 miliar. Di sisi lain, emiten petrokimia milik Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), juga memiliki posisi kas yang kuat. Hingga 30 Juni 2026, TPIA tercatat menyimpan dana segar yang belum terpakai sebesar Rp15,4 triliun.
Dana jumbo dari hasil rights issue tersebut direncanakan untuk pembangunan kompleks petrokimia terintegrasi, CAP-2, oleh anak usahanya. TPIA saat ini juga mengantongi pendapatan dolar AS yang kuat setelah mengakuisisi Aster, perusahaan kilang di Singapura.
Kinerja Kilang Aster dan Rencana BREN
Berdasarkan catatan Sucor Sekuritas, margin kilang Aster melonjak ke posisi tertinggi sebesar US$30 per barel pada Maret 2026 akibat ketegangan di Timur Tengah. Margin tersebut melandai menjadi US$17,3 per barel untuk light sweet dan US$16,6 per barel untuk medium sour pada Mei 2026 seiring de-eskalasi. "Tetapi, tetap saja ini di atas margin sebelum perang, US$5 per barel," tulis Sucor Sekuritas pada Kamis (16/7/2026).
Sucor Sekuritas memproeksikan margin kilang Aster akan bertahan di level US$10 per barel karena gangguan pasokan dari konflik Iran-AS. Hal ini mendukung rencana peningkatan kapasitas kilang Aster dari 237 kbpd menjadi 307 kbpd.
Sementara itu, BREN dilaporkan telah mengajukan penawaran tidak mengikat untuk mengakuisisi Energy Development Corp. Nilai penawaran tersebut diperkirakan mencapai US$5 miliar, yang telah dikonfirmasi oleh induk usahanya, First Gen Corp.
"Hingga saat ini, First Gen menyebut bahwa belum ada diskusi antara para pihak, belum ada perjanjian yang ditandatangani, dan First Gen belum menunjuk penasihat apa pun untuk transaksi ini," tulis Stockbit Sekuritas melansir Bloomberg.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow