Bank Sentral Korea Naikkan Suku Bunga Jadi 3 Persen Dorong Won Menguat
Bank Sentral Korea Selatan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3 persen pada Agustus 2026, langkah yang mendorong won menguat ke level terkuat sejak Juli 2025.
Kenaikan suku bunga ini merupakan yang kedua kalinya secara berturut-turut dari 2,75 persen, sebagai respons terhadap pertumbuhan ekonomi yang kuat dan tekanan inflasi yang masih tinggi di Korea Selatan, menurut laporan Bank of Korea.
Won Korea Selatan diperdagangkan di kisaran 1.374 per dolar AS, menguat sekitar 5 persen sepanjang Agustus, didorong oleh penjualan dolar oleh eksportir dan surplus perdagangan yang diperkirakan melebihi US$ 30 miliar, terutama berkat lonjakan ekspor semikonduktor lebih dari 60 persen secara tahunan.
"Dalam konteks ini, sangat penting untuk mencegah meluasnya tekanan inflasi melalui tindakan preventif," ujar Bank of Korea dalam pernyataan resmi yang dikutip dari Liputan6.com.
Bank sentral juga merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Korea Selatan tahun 2026 menjadi 3,3 persen, didukung oleh kinerja ekspor semikonduktor yang kuat dan permintaan domestik yang meningkat.
Dua perusahaan semikonduktor besar, Samsung Electronics dan SK Hynix, menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi dengan lonjakan laba bersih masing-masing lebih dari 1.800 persen dan 1.200 persen pada kuartal II 2026. Hal ini juga mendorong indeks saham Kospi mencapai rekor tertinggi di atas 9.000 poin pada Juni 2026.
Chris Turner dari ING melaporkan bahwa kenaikan suku bunga Bank of Korea kini mencapai level tertinggi sejak Januari 2025 yaitu 3,00 persen, dengan dot plot yang mengindikasikan kenaikan hingga 3,25 persen dalam enam bulan ke depan.
"Won Korea terus melanjutkan penguatannya. Pendorong pekan ini adalah kenaikan suku bunga berturut-turut dari Bank of Korea," ujar Chris Turner, menambahkan bahwa prospek pertumbuhan semakin kuat seiring booming ekspor chip yang berdampak pada keseluruhan perekonomian.
Turner juga mencatat kekhawatiran otoritas Korea terhadap level tinggi nilai tukar KRW/JPY dan USD/KRW, yang bisa memicu perlunya konsolidasi dalam waktu dekat.
Kenaikan suku bunga Bank of Korea juga memperpendek selisih kebijakan suku bunga antara Korea Selatan dan Amerika Serikat menjadi 0,75 poin persentase, level terkecil sejak November 2022, dengan suku bunga AS berada di kisaran 3,50–3,75 persen.
Namun, pernyataan hawkish dari Ketua Federal Reserve AS Kevin Warsh dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS dan kenaikan harga minyak, menambah kekhawatiran inflasi dan risiko pasar global.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow