Inflasi Agustus 2026 Tembus 3 Persen, BI Berpotensi Naikkan Suku Bunga

Smallest Font
Largest Font

Inflasi tahunan Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,19%, membuka peluang Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan tahun ini, terutama jika tekanan rupiah, harga energi global, dan inflasi pasokan semakin kuat, dilansir dari Investor Daily. Kenaikan inflasi ini naik dari 2,88% pada Juli dan inflasi bulanan juga berbalik positif menjadi 0,21% setelah sebelumnya deflasi 0,14%. Faisal Rachman, Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan PT Bank Permata Tbk, menyatakan kemungkinan kenaikan BI Rate lanjutan belum bisa dikesampingkan karena tekanan inflasi diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun.

"Pada tahap ini, kami belum dapat mengesampingkan kemungkinan kenaikan BI-Rate sekali lagi pada 2026 apabila kondisi memburuk lebih lanjut," ujar Faisal.

Faisal menyebutkan bahwa pangan menjadi pendorong utama inflasi bulan Agustus, dengan kenaikan harga daging ayam, cabai rawit, ikan, dan beras, serta meningkatnya permintaan selama libur Maulid Nabi dan Hari Kemerdekaan, didukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). "Inflasi tahunan meningkat hingga melampaui 3% pada Agustus 2026, di tengah menguatnya permintaan pangan dan gangguan cuaca terhadap panen sejumlah komoditas hortikultura," kata Faisal.

Selain itu, inflasi inti juga naik dari 2,76% menjadi 2,92% diterpa kenaikan harga emas, minyak goreng, makanan berbahan dasar beras, telepon seluler, pelumas, serta laptop dan notebook. Faisal menjelaskan bahwa tekanan inflasi impor mulai terasa akibat pelemahan rupiah dan gangguan rantai pasok global yang meningkatkan risiko inflasi dari sisi pasokan.

"Pelemahan rupiah akan meningkatkan inflasi impor dan menaikkan biaya input impor. Ini sudah tercermin pada inflasi sisi penawaran yang melampaui inflasi sisi permintaan," ujar Faisal. Tekanan rupiah diperkirakan masih tinggi hingga akhir 2026 seiring melebar defisit transaksi berjalan dan aliran modal masuk yang sebagian besar jangka pendek, yang bisa berbalik jika The Federal Reserve mengambil kebijakan lebih ketat. Faisal mengingatkan program MBG juga berpotensi meningkatkan permintaan pangan dan menekan inflasi harga bergejolak jika produksi pertanian dan ketahanan pasok tidak memadai, sementara potensi El Niño "Godzilla" dapat mengganggu produksi pertanian dan mendorong kenaikan harga pangan.

Dengan asumsi harga energi bersubsidi dipertahankan, Bank Permata memperkirakan inflasi akhir 2026 sekitar 3,13%, lebih tinggi dari 2,92% pada 2025, dan proyeksi ini bisa terlampaui jika konflik Timur Tengah menyebabkan harga energi global tetap tinggi.

Kenaikan harga energi global yang berkepanjangan juga dapat meningkatkan tekanan pada pemerintah untuk menaikkan harga energi bersubsidi, yang menurut Faisal akan memperbesar peluang BI menaikkan suku bunga acuan. Meski demikian, skenario dasar Bank Permata memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di level 5,75%, dengan kenaikan suku bunga terakhir sudah memperhitungkan potensi kenaikan Fed Funds Rate kuartal IV-2026. "Namun, apabila tekanan inflasi, rupiah, dan harga energi memburuk secara bersamaan, opsi kenaikan BI Rate lanjutan tetap terbuka," kata Faisal.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed