Bank Permata Proyeksikan Inflasi Juli 2026 Melambat ke 0 05 Persen

Smallest Font
Largest Font

Laju inflasi bulanan Indonesia pada Juli 2026 diprediksi melambat hingga mencapai 0,05 persen, melandai signifikan dibandingkan angka 0,44 persen pada Juni 2026. Proyeksi penurunan ini didorong oleh merosotnya harga sejumlah komoditas pangan serta penurunan harga bahan bakar minyak nonsubsidi, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Minggu (2/8/2026).

Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata, Faisal Rachman, menjelaskan bahwa tren deflasi pada komponen harga bergejolak menjadi penekan utama laju inflasi.

"Inflasi bulanan diperkirakan turun dari 0,44% pada Juni 2026 menjadi 0,05% pada Juli 2026, terutama didorong oleh deflasi pada komponen harga bergejolak (volatile food)," ujar Faisal.

Berdasarkan acuan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis, Bank Permata mencatat penurunan harga terjadi pada komoditas telur ayam, bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit. Faisal menuturkan bahwa pengetatan harga pangan tersebut mampu menutup dampak kenaikan komoditas lain.

"Penurunan tersebut diprediksi lebih besar dibandingkan kenaikan harga beras, daging ayam, daging sapi, dan bawang putih," kata Faisal.

Di samping faktor pangan, tekanan inflasi juga tertahan oleh penurunan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Pertamax Dex, dan Dexlite, serta penurunan harga LPG nonsubsidi ukuran 5,5 kg dan 12 kg. Meski tarif angkutan udara naik selama libur sekolah dan kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah berakhir pada 5 Juli 2026, kenaikan komponen yang diatur pemerintah tetap berada di level moderat.

Di sisi lain, tekanan terhadap inflasi inti juga dinilai berjalan lebih lambat bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

"Meskipun kenaikan harga musiman pada barang dan jasa terkait pendidikan serta rekreasi diperkirakan terjadi, penurunan harga emas diperkirakan akan membantu menahan laju inflasi inti," tutur Faisal.

Kendati demikian, Faisal mengingatkan adanya risiko inflasi dari tingginya penyaluran Program Makan Bergizi Gratis serta ancaman iklim El Niño Godzilla yang berpotensi mengganggu pasokan pangan.

"Selain itu, potensi munculnya fenomena El Niño Godzilla perlu terus dipantau karena dapat mengganggu produksi pertanian, mendorong kenaikan harga pangan, dan semakin memperbesar tekanan inflasi," ujar Faisal.

Ancaman eksternal seperti dinamika kebijakan The Fed dan eskalasi geopolitik di Timur Tengah turut dinilai dapat menekan kurs rupiah sehingga menaikkan harga barang impor.

"Hal tersebut tercermin dari inflasi yang berasal dari sisi penawaran yang tumbuh lebih cepat dibandingkan inflasi dari sisi permintaan, mengindikasikan meningkatnya risiko penerusan kenaikan biaya produksi ke harga konsumen, seiring terus meningkatnya biaya input, khususnya bahan baku impor," ungkap Faisal.

Tim ekonom Bank Permata menargetkan inflasi tahunan berada di level 3,13 persen pada akhir 2026 selama pemerintah mempertimbangkan kestabilan harga BBM bersubsidi. Namun, potensi geopolitik global tetap menjadi pengawas ketat arah suku bunga.

"Demikian pula, setiap penyesuaian naik pada harga energi bersubsidi domestik akan secara signifikan meningkatkan kemungkinan sekaligus memperkuat alasan bagi Bank Indonesia untuk kembali menaikkan BI-Rate," kata Faisal.

Badan Pusat Statistik dijadwalkan akan merilis data resmi inflasi Juli 2026 beserta indikator ekonomi lainnya pada Senin (3/8/2026).

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed