Sinergi Merah Putih Destry Damayanti Tekan Volatile Food Inflation

Smallest Font
Largest Font

Menjaga stabilitas nilai rupiah terus menjadi fokus Bank Indonesia (BI), baik terhadap harga barang dan jasa maupun mata uang asing. Laju inflasi menjadi indikator keberhasilan pada kestabilan harga barang, sementara pergerakan nilai tukar mengukur kestabilan terhadap mata uang luar negeri. Pengendalian tekanan harga biasanya dilakukan BI dengan mengelola permintaan agregat melalui penyesuaian suku bunga acuan atau BI-Rate.

Kebijakan moneter ini menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas makroekonomi secara berkelanjutan, sebagaimana dilansir dari Detik Finance. Gubernur Bank Indonesia yang baru ditetapkan dalam Sidang Paripurna DPR RI, Destry Damayanti, menyiapkan strategi tambahan untuk mengendalikan inflasi. Fokus utamanya tertuju pada lonjakan harga yang berasal dari gangguan sisi pasokan produk dan jasa di masyarakat.

Destry menjelaskan bahwa kelangkaan produk pangan di pasar sering memicu kenaikan harga yang fluktuatif atau volatile food inflation. Masalah kelancaran pasokan ini tidak bisa diselesaikan oleh bank sentral secara mandiri tanpa keterlibatan pihak lain.

Guna mengatasi hambatan pasokan tersebut, BI mengusung kepemimpinan bertema 'Sinergi Merah Putih' untuk memperkuat kerja sama antarlembaga. Kolaborasi ini melibatkan kementerian teknis, pemerintah pusat, hingga pemerintah daerah. "Kaitannya dengan misalnya kita ada mengarah sekarang ini kayak volatile food inflation. Inflasi kan salah satu juga target di kami untuk menjaga, dijaga stabilitasnya," kata Destry usai rapat Paripurna DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2026).

"Tapi kita tahu ada sumber inflasi yang sifatnya lebih supply-side. Nah tentunya kalau supply-side ini kan Bank Indonesia nggak bisa sendiri, jadi Bank Indonesia mengajak tentu lembaga terkait termasuk pemerintah pusat dan pemerintah daerah," paparnya lagi. Pendekatan konkret di lapangan akan memaksimalkan peran jaringan kantor perwakilan BI di berbagai daerah. Koordinasi intensif dilakukan bersama dinas terkait serta Kementerian Pertanian untuk mengurai sumbatan distribusi pangan lokal.

"Contohnya supply untuk pangan misalnya, nah kan Bank Indonesia nggak mungkin sendiri melakukan itu, maka dengan pemerintah daerah, kemudian juga dengan kementerian-kementerian, Kementerian Pertanian ataupun kementerian terkait lainnya, itu kita bekerja sama bagaimana ke daerah-daerah," ujar Destry. "Kami punya 46 kantor cabang, kantor Bank Indonesia daerah, bekerja sama dengan Pemda dan juga lembaga lain terkait untuk bisa mengatasi kelangkaan, misalnya ada masalah cabai, ada masalah bawang merah. Itu bentuk konkret kalau kita bicara sektor riil terkait dengan pangan," bebernya lagi.

Selain sektor pangan, BI konsisten memperluas penggunaan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) dalam transaksi perdagangan dan investasi internasional. Sebuah kelompok kerja khusus telah dibentuk bersama Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan BKPM untuk mengawal program strategi ini secara rutin.

"Kemudian juga kerja samanya terkait misalnya kita mendorong Local Currency Transaction ya untuk usaha kita. Nah ini kita punya semacam working group di mana di situ kementeriannya ada dari Perdagangan ada, dari BKPM ada, dari Industri di mana kayak ada pertemuan yang rutin karena itu terkait dengan investasi dan juga perdagangan," tutur Destry.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed