Bakteri Usus Astronaut Picu Sembelit Selama Misi Luar Angkasa

Smallest Font
Largest Font

Gangguan pencernaan seperti sembelit sering mengganggu para astronaut yang bertugas di orbit. Dilansir dari Detik iNET, para ilmuwan kini mulai menemukan penyebab biokimia di balik fenomena tersebut.

Riset terbaru dari University of Copenhagen dan NASA mengungkapkan bahwa kondisi mikrogravitas memicu perubahan pada mikroba usus manusia.

Peneliti menganalisis 488 sampel darah dari 52 astronaut. Seluruh subjek tersebut pernah bertugas di International Space Station (ISS) antara tahun 2006 hingga 2018.

Hasil analisis menunjukkan bakteri usus memfermentasi protein dalam jumlah lebih tinggi beberapa minggu setelah astronaut tiba di orbit.

"Kami melihat perubahan di sampel darah para astronaut yang mengindikasikan bakteri usus mulai memfermentasi protein dalam jumlah yang lebih besar dari biasanya dalam beberapa minggu setelah para astronaut tiba di luar angkasa, dan perubahan ini berlanjut hingga mereka kembali ke Bumi," kata Giorgia La Barbera, salah satu penulis dari University of Copenhagen.

Pengukuran molekul kecil dalam darah dilakukan menggunakan teknik metabolomik. Metode ini memetakan respons biokimia tubuh dan mikroba terhadap lingkungan luar angkasa.

Sebanyak 40 senyawa mengalami perubahan selama misi. Perubahan ini mencakup metabolit yang dihasilkan saat bakteri usus besar memecah protein.

Secara alami, bakteri usus memfermentasi serat dan karbohidrat. Gerak pencernaan yang melambat akibat minimnya gravitasi membuat karbohidrat cepat habis, sehingga mikroba beralih memecah protein.

"Kurangnya gravitasi di luar angkasa kemungkinan menyebabkan makanan bergerak lebih lambat melalui usus, dan ini sesuai dengan fakta bahwa kita melihat tanda-tanda peningkatan fermentasi protein," kata La Barbera.

Proses fermentasi protein yang berlebihan berpotensi meningkatkan produksi zat beracun seperti amonia dan hidrogen sulfida di dalam saluran pencernaan.

"Ini juga dapat membantu menjelaskan sembelit pada astronaut," sambungnya.

Sebagian besar perubahan metabolit tersebut kembali normal beberapa hari setelah astronaut mendarat di Bumi. Tim peneliti menyarankan penambahan asupan serat dan karbohidrat dalam diet harian astronaut untuk meminimalisasi masalah pencernaan selama misi jangka panjang.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed