Grup Bakrie dan Salim Bangun Proyek Gasifikasi Batu Bara Jadi Metanol
Pengolahan batu bara berkalori rendah kini diarahkan untuk menghasilkan metanol melalui teknologi gasifikasi guna memenuhi kebutuhan domestik. Langkah ini diharapkan mampu menekan volume impor sekaligus memperkuat struktur industri nasional.
Seperti dilansir dari Investor Daily, implementasi hilirisasi ini direalisasikan melalui Proyek Strategis Nasional (PSN) Gasifikasi Batubara menjadi Metanol. Proyek berlokasi di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Target produksi proyek ini mencapai sekitar 2 juta ton metanol per tahun. Nilai penghematan devisa negara dari pengurangan impor diproyeksikan berada di angka Rp 7,1 triliun per tahun.
Pengembangan kawasan industri ini dikelola oleh PT Bumi Etam Chemical (BEC), sebuah perusahaan patungan antara PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC). Seluruh fasilitas operasional akan berdiri di atas lahan seluas 93 hektare di kawasan BCIP.
Perlu diketahui bahwa Arutmin dan KPC merupakan anak usaha dari PT Bumi Resources Tbk (BUMI), perusahaan yang bernaung di bawah Grup Bakrie dan Salim.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menyatakan bahwa proyek hilirisasi ini menjadi bagian utama dalam memperkokoh kemandirian industri nasional.
"Groundbreaking ini menandai dimulainya langkah nyata pembangunan industri methanol berbasis hilirisasi batu bara. Proyek ini merupakan bagian dari upaya kita untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional," kata Yuliot.
Potensi batu bara berkalori rendah di wilayah Kalimantan dan Sumatera sangat berlimpah, sehingga proyek hilirisasi BEC diharapkan dapat menjadi percontohan bagi pelaku industri batu bara lainnya.
"Kita akan terus mendorong hilirisasi ini yang telah ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai prioritas pembangunan semasa kepemimpinan Beliau dalam (program) Asta Cita," ujar Yuliot.
Dalam operasionalnya, proyek ini akan menyerap batu bara berkalori 3.400 kcal/kg dengan volume 7,70 hingga 7,78 juta ton per tahun. Hasil akhir olahan berupa metanol yang memenuhi kriteria International Methanol Producers and Consumers Association (IMPCA) Grade.
Peningkatan kapasitas produksi dalam negeri hingga 2 juta ton metanol per tahun sangat penting. Mengingat pada 2025, angka impor metanol Indonesia masih menyentuh 1,3 juta ton dengan nilai mencapai Rp 7,1 triliun.
"Kami berharap dengan proyek yang memberikan multiplayer effect yang nyata bagi seluruh stakeholder baik penciptaan lapangan kerja tumbuhnya industri pendukung serta peningkatan aktivitas ekonomi," tutur Yuliot.
Kompleks industri hilirisasi ini ditunjang oleh reaktor sintesis, fasilitas gasifikasi, unit pengolahan air, pembangkit listrik, serta terminal pelabuhan. Penggunaan teknologinya disiapkan untuk mengendalikan emisi dan terintegrasi dengan Carbon Capture and Storage (CCS).
Metanol hasil produksi akan disalurkan untuk kebutuhan industri petrokimia dan formaldehida, serta mendukung penyediaan pasokan bahan baku FAME dan program B50.
Pada kesempatan tersebut, Presiden Direktur BEC Rio Supin mengonfirmasi bahwa pengerjaan tahap engineering telah dimulai. Langkah ini ditandai lewat penyusunan Front-End Engineering Design (FEED) dan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement bersama PT Istana Karang Laut (IKL) dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC) pada 29 Juli 2026.
"Proyek Gasifikasi Batubara Pertama di Indonesia siap memasuki implementasi target comimsioning tahun 2029 seusai arahan Pak Menteri. BEC siap mendukung kemandirian dan ketahanan energi nasional," ucap Rio.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow