Australia Bakal Wajibkan Pusat Data Sokong Pasokan Energi Baru
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengumumkan rencana regulasi mengikat bagi pusat data skala besar dalam pidatonya mengenai kecerdasan buatan di University of Sydney pada Rabu, 15 Juli 2026. Pemerintah Australia bakal mewajibkan pusat data besar untuk menyokong pasokan daya baru, membayar biaya sambungan jaringan listrik secara penuh, serta menyuplai energi ke jaringan sebanyak yang mereka konsumsi. Kebijakan ini diambil menyusul kekhawatiran meluasnya pembangunan fasilitas digital yang dinilai membebani jaringan listrik nasional dan memicu polusi iklim akibat lonjakan adopsi teknologi kecerdasan buatan.
Langkah pengetatan aturan tersebut memicu desakan dari kelompok lingkungan dan komunitas lokal yang menuntut penghentian sementara atau moratorium pembangunan pusat data hingga kerangka regulasi resmi beroperasi penuh.
Direktur Net Zero Institute di University of Sydney, Deanna D’Alessandro, menilai regulasi terkait fasilitas komputasi awan ini sebelumnya masih berjalan secara terpisah antar-lembaga. “The commonwealth is focused on sovereign digital capability, productivity, critical infrastructure resilience and decarbonisation,” kata Deanna D’Alessandro, Profesor dan Direktur Net Zero Institute di University of Sydney.
Ia menambahkan bahwa koordinasi prioritas sangat krusial agar keuntungan ekonomi tetap bisa diraih tanpa menghilangkan penerimaan dari masyarakat lokal. “States are balancing economic growth with energy, water and regional development challenges. Local councils are dealing with the immediate impacts on land use, housing, traffic, amenity and community expectations,” ujar Deanna D’Alessandro, Profesor dan Direktur Net Zero Institute di University of Sydney.
Penerapan standar baru ini memerlukan persetujuan dari seluruh menteri negara bagian dalam pertemuan dewan kementerian energi dan perubahan iklim sebelum disahkan menjadi undang-undang awal tahun depan. Meskipun mayoritas proyek berpusat di New South Wales dan Victoria, Queensland menjadi satu-satunya negara bagian yang belum menyepakati usulan tersebut pada pertemuan bulan Mei lalu. Ketua Climate Council, Amanda McKenzie, memperingatkan bahwa keengganan berkolaborasi berpotensi memicu persaingan penurunan standar kualitas lingkungan antar-wilayah.
“The AI-driven surge in datacentres will have a profound effect on our energy system, and unchecked, this growth could mean soaring prices and rampant climate pollution,” kata Amanda McKenzie, Ketua Climate Council.
Organisasi tersebut mendesak pemerintah untuk memperketat pengawasan demi melindungi kepentingan masyarakat luas. “The government must adequately regulate datacentres growth to ensure it occurs in the best interests of Australians,” ujar Amanda McKenzie, Ketua Climate Council. Asosiasi sektor industri, Data Centres Australia, sebelumnya sempat menyatakan keberatan atas tuntutan agar seluruh operator menggunakan total energi terbarukan karena kendala sinkronisasi waktu proyek.
CEO Data Centres Australia, Belinda Dennett, memaparkan tantangan operasional tersebut dalam penyelidikan legislatif di New South Wales pada bulan Mei.
“to match a renewable energy project timing and a datacentre timing is difficult” kata Belinda Dennett, CEO Data Centres Australia. Meski mengutarakan bahwa detail teknis regulasi masih harus dikaji mendalam, pihak asosiasi menyatakan kesepakatan umum terhadap arah kebijakan perdana menteri.
Di sisi lain, juru bicara komunikasi dari partai The Greens, Sarah Hanson-Young, mendukung langkah penundaan izin bagi proyek baru sebelum regulasi dampak lingkungan resmi berlaku. “Today’s announcement … is welcome, but with more than 90 datacentres already in the pipeline we cannot allow a free-for-all in the meantime,” kata Sarah Hanson-Young, Juru Bicara Komunikasi The Greens.
Selain regulasi infrastruktur, Perdana Menteri Anthony Albanese juga mengumumkan pembentukan Office of the AI di bawah Departemen Perdana Menteri dan Kabinet untuk mengoordinasikan respons lintas sektoral pemerintah terhadap perkembangan kecerdasan buatan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow