AS Tambah Operasi Buyback Obligasi Guna Jaga Likuiditas Pasar
Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan peningkatan skala operasi pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah tenor panjang dari maksimum US$2 miliar menjadi minimal US$4 miliar per operasi. Kebijakan untuk meredam lonjakan imbal hasil serta menjaga likuiditas pasar ini dijadwalkan berlaku mulai 9 September hingga 4 November 2026.
Langkah intervensi anggaran tersebut dirilis setelah imbal hasil obligasi AS tenor 30 tahun sempat menyentuh level 5,34 persen pada Selasa (18/8/2026), yang menjadi posisi tertinggi sejak 2007. Lonjakan yield terjadi akibat kekhawatiran fiskal setelah total utang publik AS menembus US$40 triliun, di tengah ketegangan geopolitik dengan Iran.
Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa menilai langkah otoritas keuangan AS tersebut membuktikan bahwa strategi stabilisasi pasar surat utang yang diterapkan Indonesia sudah sesuai standar internasional. Indonesia sebelumnya telah mengeksekusi buyback Surat Berharga Negara yang dilepas investor asing senilai Rp600 miliar pada Mei 2026 menggunakan dana APBN.
"Itu menunjukkan apa yang kita lakukan ya memang standar internasional, mungkin Amerika niru kita juga tuh, berhasil dia ikut. Tapi jelas concern-nya sama, dia akan melakukan itu untuk menambah likuiditas di sistem perekonomian," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan RI.
Ia menegaskan bahwa setiap pemerintah akan mengambil langkah berani ketika likuiditas di dalam sistem perekonomian mulai terganggu guna memastikan stabilitas pasar keuangan tetap terjaga.
"Jadi kalau pemerintah melihat di mana-mana ya likuiditasnya terganggu, dia akan melakukan segala cara yang halal, yang bisa dilakukan untuk memastikan ekonominya tidak terganggu. Jadi yang kita lakukan sama dengan yang Amerika lakukan," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan RI.
Purbaya juga kembali menegaskan kesamaan langkah tersebut saat memberikan keterangan usai menghadiri rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI di Jakarta.
"Itu menunjukkan apa yang kita lakukan memang standar internasional. Mungkin Amerika niru kita juga, tuh berhasil dia ikut," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan RI.
Sebab, respons cepat otoritas sangat diperlukan guna mencegah gangguan ekonomi yang lebih luas akibat gejolak di pasar keuangan.
"Tapi jelas concern-nya sama, dia (AS) akan melakukan itu untuk menambah likuiditas di sistem perekonomian," terang Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan RI.
Purbaya menekankan bahwa instrumen intervensi pasar yang sah wajib ditempuh saat tekanan likuiditas mulai mengancam.
"Jadi kalau pemerintah melihat di mana-mana likuiditasnya terganggu, dia akan melakukan segala cara yang halal, yang bisa dilakukan untuk memastikan ekonominya tidak terganggu. Jadi yang kita lakukan sama dengan yang Amerika lakukan," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan RI.
Pengamat pasar modal dari BMO Private Wealth juga menyoroti pengaruh positif pengumuman kebijakan Menteri Keuangan AS Scott Bessent terhadap penurunan tekanan pasar modal.
"Perdagangan aset berisiko kembali mendapat dorongan setelah kebijakan yang diumumkan Menteri Keuangan Bessent membantu meredakan tekanan dari kenaikan yield obligasi," ujar Carol Schleif, Chief Market Strategist BMO Private Wealth.
Namun, pihak analis keuangan mengingatkan bahwa langkah pemulihan likuiditas ini belum menyelesaikan akar masalah suku bunga jangka panjang secara menyeluruh.
Pengumuman kenaikan buyback ini langsung direspons positif oleh pasar global pada perdagangan Rabu (19/8/2026). Yield obligasi AS tenor 10 tahun turun 7 bps ke 4,64 persen, Indeks DXY melemah 0,9 persen ke level 98,8, sementara indeks Dow Jones naik 0,22 persen, S&P 500 menguat 0,21 persen, dan IHSG ditutup menguat 1,7 persen pada Kamis (20/8/2026).
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow