Tiga Pengguna Kripto Menggugat Apple Atas Aplikasi Dompet Bitcoin Palsu
Tiga pengguna aset kripto melayangkan gugatan terhadap Apple di California setelah kehilangan dana total USD 1,8 juta atau sekitar Rp32 miliar akibat aplikasi dompet Bitcoin palsu di toko aplikasi App Store.
Gugatan tersebut menuduh perusahaan teknologi raksasa itu melanggar Undang-Undang Perlindungan Konsumen California. Apple dianggap gagal meninjau serta memantau aplikasi yang didistribusikan melalui platform resmi mereka.
Korban yang terdiri dari James Ramirez, Christopher Ellis, dan Jalen Delgado mengunduh aplikasi palsu bernama Sparrow Wallet di App Store. Aplikasi Sparrow Wallet yang asli sebenarnya hanya tersedia untuk sistem operasi Windows, macOS, dan Linux, namun peretas merilis versi tiruan di platform iOS.
Aset kripto milik ketiga korban tersebut berhasil dikuras oleh penipu pada rentang waktu Mei hingga Agustus 2025. Masing-masing pengguna mengalami kerugian senilai USD 875.000, USD 840.000, dan USD 120.000.
"Para pengguna mendapati akun mereka telah dikosongkan dan aset kripto mereka ditransfer ke dompet pribadi para penipu," demikian bunyi gugatan tersebut, seperti dikutip dari MacRumors pada Selasa (28/7/2026).
Gugatan tersebut menambahkan bahwa penipuan ini berhasil memanfaatkan reputasi platform yang telah dibangun oleh Apple.
"Penipuan ini berhasil justru karena Apple mengeksploitasi kepercayaan konsumen yang telah dipupuk selama lebih dari satu dekade dengan memasarkan App Store sebagai lingkungan yang unik, aman, dan terpercaya," sambungnya.
Pihak penggugat kini menuntut ganti rugi penuh atas seluruh dana yang hilang. Kendati laporan penipuan telah diajukan oleh para korban, gugatan menuding Apple kerap tidak mengambil tindakan cepat sehingga aplikasi palsu sejenis masih ditemukan di App Store.
Pengembang resmi Sparrow Wallet, Craig Raw, sebelumnya telah mengkritik penanganan Apple terkait maraknya aplikasi tiruan. Raw sempat mendaftarkan akun placeholder untuk memberikan peringatan kepada pengguna, namun akun Apple Developer miliknya sempat ditangguhkan sebelum akhirnya dipulihkan kembali oleh Apple.
Di sisi lain, dinamika pasar aset digital global juga dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi tradisional. Berdasarkan laporan CoinDesk pada 23 Juli 2026, imbal hasil obligasi Treasury Inflation-Protected Security (TIPS) 30 tahun menyentuh angka mendekati 3 persen, yang merupakan level tertinggi dalam 17 tahun.
"Ini adalah salah satu peluang pelestarian kekayaan terbesar dalam beberapa dekade. Investor dapat mengunci imbal hasil tahunan hampir 3% di atas inflasi untuk tiga dekade ke depan, yang didukung oleh pemerintah AS," catat situs TreasuryBonds.com.
Tingginya imbal hasil aset riil tersebut berpotensi meningkatkan biaya peluang dalam memegang aset tanpa bunga seperti Bitcoin. Di saat yang sama, industri kripto juga menyaksikan penutupan bursa derivatif BitMEX yang menghentikan layanannya per 23 September 2026, serta peretasan protokol lintas rantai yang menyebabkan kerugian $35 juta dalam hitungan jam.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow