Amerika Serikat dan Venezuela Sepakati Perjanjian Minyak 200 Miliar Dolar

Smallest Font
Largest Font

Kerja sama energi bilateral antara Venezuela dan Amerika Serikat diproyeksikan mampu menghasilkan pendapatan lebih dari 200 miliar dolar AS bagi Caracas. Presiden Sementara Venezuela Delcy Rodriguez memprediksi nilai fantastis tersebut pada Sabtu, 29 Agustus 2026, setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan pada Jumat lalu.

Perhitungan potensi pendapatan tersebut menjadi landasan utama pemerintah Venezuela dalam mendukung kerja sama jangka panjang ini. Selain target produksi awal, Caracas berencana memperluas ekspansi energi dengan menggarap delapan blok minyak baru.

"Proyek bilateral 25 tahun ini membayangkan pengembangan 17 ladang minyak strategis dengan target produksi lebih dari 1,5 juta barel per hari," kata Presiden Sementara Venezuela Delcy Rodriguez dalam siaran penyiar negara VTV.

Pemerintah Venezuela menegaskan bahwa target kapasitas produksi yang ditetapkan dalam perjanjian hanya mengikat kedua negara secara bilateral. Rodriguez menekankan bahwa negara South America tersebut tetap memegang kendali penuh atas kekayaan alamnya.

"Angka itu berkaitan semata-mata dengan perjanjian bilateral antara Venezuela dan Amerika Serikat," ujar Rodriguez.

Penguasaan cadangan minyak terbukti Venezuela yang mencapai lebih dari 65 miliar barel kini berada di bawah kendali mayoritas pihak AS. Kendati demikian, Caracas menilai masuknya modal dan teknologi asing sangat diperlukan untuk memulihkan fasilitas produksi yang sempat terpuruk akibat sanksi ekonomi.

"[Negara kami mempertahankan] kepemilikan dan kedaulatan atas sumber daya alamnya, sambil memanfaatkan modal, teknologi, dan keahlian operasional untuk mendukung pemulihan industri strategis yang telah terdampak parah oleh sanksi," kata Rodriguez.

Pengumuman kesepakatan bisnis ini sebelumnya disampaikan langsung oleh Presiden Donald Trump melalui platform media sosial miliknya. Trump mengklaim bahwa negosiasi berhasil merampungkan kerja sama komersial terbesar sepanjang sejarah sektor energi global.

"Amerika Serikat baru saja menyetujui Perjanjian dengan Negara Venezuela tentang, KESEPAKATAN MINYAK TERBESAR DALAM SEJARAH DUNIA!" kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui Truth Social.

Proses negosiasi tingkat tinggi tersebut melibatkan Menlu AS Marco Rubio, Menteri Perang Pete Hegseth, Rodriguez, serta sektor swasta. Trump menegaskan bahwa ekspansi minyak ini tidak membebankan anggaran negara AS sama sekali.

"Transaksi Bersejarah Ini LEBIH DARI DUAKALI LIPAT Cadangan Minyak Amerika, sangat meningkatkan Pasokan Minyak kita, dan akan menurunkan Harga Bensin secara substansial bagi seluruh rakyat Amerika, hingga jauh ke masa depan," ujar Trump.

Dukungan diplomatik turut disampaikan oleh pihak Kementerian Luar Negeri AS yang menilai kerja sama ini menguntungkan kedua belah pihak. Investasi swasta yang masuk diperkirakan mencapai hampir 100 miliar dolar AS untuk merehabilitasi perekonomian Venezuela.

"[Ini merupakan] kemenangan besar [bagi kedua negara yang akan menjamin] cadangan yang stabil dan minyak berbiaya rendah [di Belahan Bumi Barat sekaligus menurunkan harga bensin AS]," kata Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio.

Sektor industri minyak menyambut positif pengumuman ini karena berpotensi menekan inflasi energi dalam jangka panjang. Pengamat pasar menilai masuknya teknologi Amerika akan mengubah peta produksi minyak Venezuela secara signifikan.

"Saya pikir ini adalah sebuah kemenangan. Ini adalah kemenangan generasi bagi rakyat Amerika karena ini [akan] mengarah pada generasi harga rendah," kata Pedagang Minyak Phil Flynn kepada pembawa acara Kayleigh McEnany di Fox & Friends Weekend.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed