Aman Agrindo Rencanakan Rights Issue untuk Pendanaan Ekspansi Pabrik

Smallest Font
Largest Font

PT Aman Agrindo Tbk (GULA) berencana menggalang dana melalui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue guna membiayai aksi korporasi perseroan, dilansir dari Investor Daily pada Senin (10/8/2026).

Langkah korporasi ini disiapkan untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan seiring rencana penambahan kapasitas produksi gula secara bertahap.

Perseroan menargetkan akuisisi pabrik gula merah di Sragen, Jawa Tengah, dapat selesai dan mulai beroperasi pada kuartal IV-2026. Operasional pabrik tersebut diproyeksikan menyumbang pendapatan dan laba sekitar 35–40% atau setara Rp175 miliar serta EBITDA sebesar Rp50 miliar per tahun.

Sepanjang tahun buku 2026, emiten berkode saham GULA ini memproyeksikan total penjualan mencapai Rp336 miliar dengan laba bersih sebesar Rp36 miliar. Beroperasinya fasilitas di Sragen akan membuat sektor manufaktur menyumbang 25% terhadap total pendapatan yang sebelumnya 100% berasal dari kegiatan perdagangan (trading).

Selain itu, perseroan telah merealisasikan penanaman tebu seluas 83 hektare dari total izin lahan seluas 15.000 hektare, dengan target produksi giling tebu mencapai 500 ton per hari serta perluasan area perkebunan hingga 1.250 hektare.

Direktur Utama GULA Andreas Utomo memberikan penjelasan mengenai keterkaitan aksi korporasi tersebut dengan rencana ekspansi perusahaan.

"Jadi, kami memang akan melakukan (rights issue) ketika kami sudah melakukan akuisisi (pabrik)," ucap Andreas pada Sabtu (8/8/2026).

Pengembangan industri gula membutuhkan alokasi dana yang besar karena tergolong sebagai bisnis padat modal, sehingga perseroan membuka peluang kerja sama dengan investor strategis.

"Jadi memang rencana pengembangan ke depan adalah multiplikasi dari kapasitas kami saat ini," ujar dia.

Prospek industri gula dinilai tetap cerah seiring lonjakan konsumsi nasional dan potensi pemanfaatan gula sebagai bahan baku bioetanol.

"Jadi, kami pasti mengupayakan untuk mencari investor atau perusahaan lain yang memiliki kekuatan modal lebih besar. Berdasarkan hitungan kami, break even point (BEP) pabrik gula itu tidak begitu lama sekitar 4-5 tahun," tandas Andreas.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed