Bakrie & Brothers Catat Kerugian Rp224,81 Miliar Semester I 2026
PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) membukukan kerugian bersih sebesar Rp224,81 miliar pada semester I 2026, berbalik dari laba bersih Rp55,87 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, pendapatan bersih perseroan meningkat 46,32 persen menjadi Rp2,59 triliun dari Rp1,77 triliun pada semester I 2025, menurut laporan keuangan per 30 Juni 2026 yang dipublikasikan.
Laba usaha BNBR melonjak 283,21 persen menjadi Rp301,53 miliar dari Rp78,68 miliar tahun sebelumnya, dan EBITDA positif mencapai Rp423,04 miliar, meningkat 230,93 persen.
Direktur Utama dan CEO BNBR, Anindya N Bakrie, mengatakan, "Kami bersyukur bahwa perseroan mampu mencatatkan pertumbuhan positif di tengah ketidakpastian dan kondisi ekonomi global yang tidak kunjung menentu. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa strategi, resiliensi, adaptabilitas, serta kerja keras seluruh tim mulai menunjukkan hasil."
Kenaikan pendapatan didorong oleh kinerja positif unit usaha utama, seperti PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN) Group yang mencatat pendapatan Rp626,78 miliar, naik 256,1 persen akibat konsolidasi PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT).
Selain itu, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) Group naik 56,2 persen menjadi Rp646,61 miliar, didukung oleh peningkatan penjualan kendaraan listrik dan PT Bakrie Autoparts Group.
PT Bakrie Metal Industries (BMI) Group juga mencatat kenaikan pendapatan 10,2 persen menjadi Rp1,3 triliun, didukung pertumbuhan di BMI Parent, PT Bakrie Construction, dan PT Southeast Asia Pipe Industries.
Wakil Direktur Utama dan Co-CEO BNBR, A Ardiansyah Bakrie, menyampaikan bahwa perseroan berhasil menghimpun dana sebesar Rp4,76 triliun dari penerbitan saham baru melalui Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue pada akhir Juli 2026.
Namun, meski pendapatan dan laba usaha meningkat, perseroan mencatat penurunan laba bersih yang terutama dipengaruhi oleh kenaikan beban bunga floating rate pada PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT), terutama tahun-tahun awal setelah akuisisi.
Direktur BNBR, Roy Hendrajanto M Sakti, mengatakan, "Perusahaan mencatatkan penurunan laba bersih yang terutama disebabkan oleh dampak eksternal berupa kenaikan floating rate terhadap beban bunga CCT, khususnya pada tahun-tahun awal setelah akuisisi ketika komponen beban bunga masih relatif tinggi."
Dari sisi struktur keuangan, ekuitas BNBR tercatat Rp4,53 triliun turun dari Rp4,67 triliun pada akhir 2025, sementara total liabilitas naik menjadi Rp19,75 triliun dari Rp18,89 triliun. Aset tercatat meningkat menjadi Rp24,28 triliun dari Rp23,56 triliun.
Pada Agustus 2026, Port Fraser International yang berbasis di Kepulauan Marshall melepas 7 miliar saham BNBR, menyisakan kepemilikan sekitar 10,58 persen saham BNBR setelah transaksi tersebut.
Meski harga saham BNBR menurun sekitar 9,26 persen sejak awal tahun dan turun 2,97 persen pasca laporan semester I, jumlah pemegang saham ritel justru meningkat hampir dua kali lipat, mencapai 174.488 Single Investor Identification (SID) pada akhir Juli 2026 dari 89.211 SID di awal tahun.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow