Aakash Doshi Prediksi Harga Emas Capai US$ 5.000 Akhir Tahun

Smallest Font
Largest Font

Harga emas berpotensi menembus US$ 5.000 per ons troi pada akhir tahun 2026, menurut Kepala Strategi Emas State Street Investment Management, Aakash Doshi, dilansir dari Investor Daily.

Harga emas pada Kamis (27/8/2026) naik 0,32% ke US$ 4.609,14 per ons troi, setelah sebelumnya turun 1,38% pada Rabu. Sepanjang Agustus, harga emas melonjak sekitar 14%, mencatat kinerja bulanan terbaik sejak Januari 1999.

Doshi menjelaskan tren pelemahan nilai mata uang yang mendorong harga emas mencetak rekor tertinggi tidak hilang, hanya tertahan oleh kenaikan suku bunga dan penguatan dolar AS.

"Di State Street, kami tidak pernah menganggapnya mati. Kami hanya berpikir tren tersebut sedang berhenti sementara. Sekarang saya pikir tren itu kembali hidup," ujar Doshi.

Dia menyebut sejumlah perkembangan makroekonomi mendukung harga emas, seperti kebijakan The Fed yang belum seketat pasar harapkan, melemahnya data tenaga kerja AS, dan meningkatnya pembelian kembali obligasi jangka panjang yang menyoroti kondisi fiskal AS yang memburuk.

Doshi optimistis tren kenaikan harga emas berlanjut dengan proyeksi kisaran US$ 4.750-5.500 per ons troi pada awal musim dingin, dan target US$ 5.000-5.250 dianggap realistis.

"Kami mulai melihat arus dana masuk kembali secara agresif dari investor ETF Barat. Saya pikir masih ada banyak amunisi di sini," kata Doshi.

Meski kebijakan moneter penting dalam jangka pendek, ia menilai persoalan besar pasar global adalah keberlanjutan utang pemerintah, terutama utang AS yang telah melewati US$ 40 triliun, dan masalah serupa juga terjadi di Inggris, Eropa, dan Jepang.

"Ada kekhawatiran mengenai besarnya utang dan jumlah belanja fiskal yang terjadi ketika ekonomi tidak berada dalam resesi," ungkap Doshi.

Perubahan fiskal juga mempengaruhi hubungan tradisional antara imbal hasil obligasi dan harga emas. Kenaikan imbal hasil yang disebabkan oleh inflasi dan utang berlebihan membuat emas menjadi instrumen pelindung daya beli dan risiko monetisasi utang.

"Emas menjadi aset yang dimiliki karena risiko pelemahan nilai mata uang, risiko daya beli, dan risiko monetisasi utang," kata Doshi.

Doshi menambahkan, basis investor emas semakin luas dengan investor China yang menjadi pembeli penting selama koreksi terakhir, sementara investor Barat diperkirakan akan lebih aktif membeli saat harga mendekati US$ 4.700.

Permintaan fisik emas juga tetap kuat, dengan bank sentral negara berkembang melakukan pembelian agresif dan investor ritel China mengakumulasi emas menjelang musim panas.

Doshi menegaskan faktor struktural seperti fragmentasi geopolitik, peningkatan belanja militer, defisit fiskal, dan kekhawatiran utang pemerintah masih ada dan kini dipadukan dengan faktor taktis yang menggerakkan harga emas jangka pendek.

"Faktor struktural selalu ada. Saat ini, faktor struktural tersebut telah bergabung dengan faktor taktis," ujar Doshi.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed