Volkswagen Rencana PHK Massal 50.000 Karyawan Akibat Mobil Listrik China
Persaingan ketat dari produsen kendaraan listrik asal Tiongkok mendorong produsen otomotif asal Jerman, Volkswagen (VW), merencanakan langkah restrukturisasi besar-besaran, seperti dilansir dari Detik Finance.
Perusahaan otomotif tersebut sedang mengkaji efisiensi biaya operasional melalui pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 50.000 karyawan. Langkah pengurangan tenaga kerja ini memperpanjang kebijakan efisiensi yang diumumkan anak perusahaannya, Audi.
Sebelumnya, Audi memangkas sekitar 50.000 pekerja di Jerman secara bertahap hingga 2030. Tambahan rencana PHK dari pabrikan utama ini berpotensi membuat 100.000 karyawan kehilangan pekerjaan secara keseluruhan.
CEO Oliver Blume menyebut langkah restrukturisasi ini sebagai penyesuaian paling komprehensif dalam sejarah perusahaan. Kebijakan ini dinilai tak terhindarkan mengingat kondisi finansial Volkswagen saat ini.
"Jumlah karyawan di seluruh perusahaan telah meningkat selama beberapa dekade hingga mencapai skala yang tidak lagi berkelanjutan saat ini," kata Blume dalam sebuah memo kepada staf dikutip dari CNN, Sabtu (25/7/2026).
Rencana pengurangan tenaga kerja secara masif tersebut mendapat penolakan keras dari serikat pekerja terbesar di Jerman, IG Metall. Langkah PHK dinilai melanggar kesepakatan tahun 2024 yang melarang penutupan pabrik dan PHK wajib.
"Puluhan ribu karyawan mengetahui tentang masa depan mereka yang terancam dari laporan surat kabar, sementara di dalam perusahaan tidak ada seorang pun yang memberi tahu mereka," kata Jan Mentrup, juru bicara serikat pekerja untuk karyawan Volkswagen.
Tekanan efisiensi ini terjadi seiring penurunan kinerja finansial Volkswagen pada kuartal kedua 2026. Laba operasional perusahaan melorot hampir 10% secara tahunan menjadi 3,5 miliar euro atau sekitar Rp 71,85 triliun (kurs Rp 17.963).
Penurunan kinerja keuangan memaksa manajemen merevisi target pendapatan tahun fiskal berjalan. Volkswagen mengoreksi proyeksi pertumbuhan dari naik 3% menjadi penurunan hingga 3%.
"Lingkungan untuk industri otomotif tetap sangat menantang: krisis geopolitik, konflik perdagangan, persyaratan regulasi yang tinggi, pasar yang bergejolak, dan persaingan yang semakin ketat," kata Blume dalam sebuah pernyataan.
Dampak finansial turut memicu penurunan harga saham Volkswagen Group sebesar lebih dari 30% selama 12 bulan terakhir, termasuk pelemahan hampir 2% pada perdagangan Jumat siang waktu setempat.
Analis menilai pabrikan Eropa memerlukan perombakan mendasar guna menandingi produsen kendaraan listrik China yang didukung keunggulan biaya tenaga kerja. Penilaian tersebut disampaikan oleh analis senior GlobalData, Mark Hogan.
"Merek-merek pendatang baru di China juga sangat gesit dan mampu menghadirkan kendaraan listrik baru ke pasar jauh lebih cepat daripada perusahaan yang sudah mapan," kata Mark Hogan, seorang analis senior di GlobalData.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow