Unimelb Ungkap AI dan Big Data Ubah Perkuliahan Pertanian
Fakultas Sains The University of Melbourne mendorong integrasi kecerdasan buatan (AI) dan big data dalam pendidikan tinggi pertanian untuk membekali mahasiswa dengan ilmu rekayasa serta pengetahuan ilmiah terbaru, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Rabu (19/8/2026).
Dekan Fakultas Sains The University of Melbourne, Prof Moira O'Bryan, menjelaskan bahwa pemahaman atas pemanfaatan teknologi canggih seperti AI dapat memicu minat generasi muda untuk mendalami sektor pertanian modern.
"(Setelah lulus), mereka juga memiliki pemahaman tentang bagaimana cara mengintegrasikan big data, dan AI akan sangat bermanfaat dalam hal ini," ucap O'Bryan pada wartawan di The Westin Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Teknologi pelacak pada ternak digunakan untuk memantau keberadaan dan masa subur domba, sementara integrasi data cuaca serta kelembapan membantu menentukan waktu panen gandum secara optimal. Lulusan yang menguasai keahlian analisis dan memiliki jaringan luas berpeluang berkarier di berbagai negara seperti Australia, Amerika Serikat, hingga Indonesia.
"Di tengah dampak perubahan iklim pada sistem tanam kami, banyak tanaman pertanian yang tumbuh di Asia akan cocok juga untuk tumbuh di Australia. Bahkan, rasanya bisa jadi lebih enak, lebih berwarna, juga," ucap O'Bryan.
Kemampuan analitis, dasar matematika yang kuat, serta rasa ingin tahu tinggi menjadi modal utama bagi mahasiswa yang ingin mendalami sektor ini. Kolaborasi dan komunikasi hasil kajian juga dinilai krusial untuk menghasilkan solusi atas permasalahan di lapangan.
"Jadi kuncinya menurut saya rasa ingin tahu, terbiasa untuk merasa sedikit tidak nyaman, serta kemampuan analitis, dan kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang sudah kamu pelajari pada orang lain, sehingga bisa diolah menjadi langkah solusi selanjutnya. Sisanya, kamu bisa sambil pelajari," ucap O'Bryan.
Sementara itu, Pro-Vice Chancellor (Global) Unimelb, Prof Frank Vetere, menyampaikan bahwa penerapan AI di perkuliahan pertanian memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi peluang bisnis baru melalui ekosistem startup di Indonesia.
Sejalan dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Eni Harmayani, menyebutkan bahwa konsep rumah kaca berbiaya rendah berbasis teknologi pintar menjadi daya tarik tersendiri bagi calon mahasiswa.
"Itu menarik pelajar muda untuk belajar pertanian," ujar Harmayani.
Di sisi lain, Direktur Riset Pascasarjana School of Food and Ecosystem Sciences (SAFES), Associate Professor Dorin Gupta, menekankan pentingnya peran akademisi muda dalam mendampingi petani skala kecil menghadapi keterbatasan modal, pengetahuan, dan dampak perubahan iklim.
"Dengan pengetahuan yang tepat atas masalah tersebut, para mahasiswa itu nantinya bantu petani kecil tentang pupuk maupun hal-hal lainnya yang butuh solusi," jelas Gupta.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow